Anita Tanjung: Perbaikan Pendidikan dan Kesehatan Bisa Memutus Rantai Kemiskinan

Anita Tanjung: Perbaikan Pendidikan dan Kesehatan Bisa Memutus Rantai Kemiskinan
Anita Tanjung ( Foto: Primus Dorimulu )
Dina Fitri Anisa / AO Senin, 25 Maret 2019 | 15:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pusat Statistik ( BPS) mencatat bahwa Indonesia mengalami titik terendah dalam hal persentase kemiskinan sejak 1999, yakni sebesar 9,82% pada Maret 2019. Artinya, masih ada sekitar 25,95 juta orang yang masih berada di garis kemiskinan.

Untuk itu, CT Arsa Foundation yang dinaungi oleh Anita Tanjung terus berkomitmen untuk memutuskan rantai kemiskinan Indonesia melalui berbagai pelayanan yang mulia, yaitu melalui pendidikan yang berkualitas serta optimalisasi kesehatan bagi masyarakat Indonesia yang kurang mampu.

Saat dijumpai Beritasatu.com di Trans Park, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (24/3), Anita bercerita soal awal CT Arsa membangun boarding school untuk 500 anak korban tsunami Aceh di Medan. Nama sekolah itu tak lain adalah Anak Rumah Madani.

“Mereka dibina dan dididik hingga sampai menginjak jenjang perguruan tinggi negeri. Setelah berkembang, pada 2010, kami membuka boarding school untuk anak miskin yang memiliki kecerdasan. Sebanyak 95% di antaranya berhasil masuk ke dalam perguruan tinggi negeri top di Indonesia, seperti UI, UGM, IPB, ITB, dan STAN,” kata Anita.

Tidak hanya masuk dalam perguruan tinggi top, tidak sedikit juga anak didik yang dia bina memiliki prestasi, hingga bisa berdiri di luar negeri. Hal ini adalah hasil nyata dari komitmennya selama belasan tahun untuk merangkul ratusan sampai ribuan anak-anak miskin di pelosok daerah Indonesia.

“Kami mempunyai boarding school di Medan dan Sukohardjo. Satu angkatan terdapat sekitar 300 anak. Kemudian, kini sudah terdapat delapan angkatan,” terangnya.

Dalam proses merangkul anak-anak kurang mampu yang berada di pelosok daerah, Anita mengaku turun tangan langsung. Dirinya memastikan bahwa anak-anak yang terpilih benar-benar datang dari keluarga yang kurang mampu.

“Sebelumnya, mereka harus tes (masuk boarding school) sampai lulus dulu, baru sesudah itu saya menjemput sendiri. Untuk menjemput satu murid saja, saya bisa memakan waktu perjalan hingga tujuh sampai delapan jam, karena berada di pelosok. Ini untuk memastikan benar-benar miskin, tetapi mereka juga harus pintar,” terangnya.

Selain boarding school, beberapa PAUD, mobil iqra, mobil pintar, dan multimedia juga ia siapkan khusus, yang beroperasi ke beberapa lokasi pemukiman pemulung. Menurutnya, perkembangan teknologi 4.0 jangan sampai dirasakan bagi mereka yang mampu dan terdidik saja, tetapi juga masyarakat yang kondisinya sering terpinggirkan.

Kemudian, perhatian Anita juga tidak hanya pada pendidikan. Pelayanan di bidang kesehatan pun juga ia terus gencarkan. Masih di lokasi pemukiman pemulung, dia juga menyiapkan mobil-mobil sehat yang menyediakan layanan pemeriksaan gigi gratis.

“Kami memiliki target setiap bulan 3.000 pemulung. Kebetulan, saya ini dokter gigi. Kami menghampiri anak-anak pemulung untuk melakukan pemeriksaan gigi secara cuma-cuma,” jelasnya.

Melihat kondisi negeri yang sering dilanda bencana, CT Arsa juga menjalin kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). "Kami menangani trauma healing pada anak-anak dan juga membangun berbagai fasilitas umum yang rusak, seperti sekolah dan rumah ibadah," tuturnya.

Saksikan videonya di sini:



Sumber: BeritaSatu.com