Sekolah Harus Ajarkan Siswa Etika Berliterasi

Sekolah Harus Ajarkan Siswa Etika Berliterasi
Pengunjung membaca buku secara gratis yang disediakan aktivis literasi di area Hari Bebas Kendaraan bermotor di Kota Madiun, Jawa Timur, Minggu (7/4/2019). Mahasiswa aktivis literasi menyediakan ratusan buku untuk dibaca secara gratis guna membudayakan literasi bagi masyarakat. ( Foto: ANTARA FOTO )
Maria Fatima Bona / EAS Senin, 15 April 2019 | 14:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan sejak dini para siswa seharusnya dikenalkan dengan enam jenis literasi, yakni baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewarganegaraan. Dikatakan, enam literasi tersebut menjadi salah satu persyaratan kecakapan abad ke-21.

Khusus untuk literasi digital, Muhadjir menekankan guru dan sekolah harus mengedepankan pemahaman tentang etika berliterasi, bukan hanya menjadikan siswa terampil. Maraknya aplikasi media sosial (medsos) membuat siswa leluasa mengunggah perasaan, maka sangat penting diarahkan sejak awal agar medsos tidak menjadi bumerang bagi siswa tersebut.

Hal ini berkaca dari beberapa peristiwa yang merugikan siswa ketika mengunakan medsos.

"Pemahaman tentang literasi digital nasional jangan hanya menjadikan siswa atau warga terampil. Literasi digital juga mengarahkan bagimana mereka diberi pemahamana etika,” kata Muhadjir di Jakarta, Sabtu (13/4).

Muhadjir juga mengharapkan sekolah dan guru dapat menjalankan program gerakan literasi nasional (GLN) yang telah dicanangkan sejak 2015 untuk memberikan pemahaman anak etika berliterasi. Apalagi saat ini perkembangan zaman terus bergerak seiring pesatnya teknologi dan informasi.

Selanjutnya, Muhadjir menyebutkan, selain literasi digital, literasi membaca dan menulis termasuk hal penting. Pasalnya, literasi membaca dan menulis ini termasuk literasi fungsional yang berguna besar dalam kehidupan sehari-hari.

"Membaca merupakan kunci mempelajari segala ilmu pengetahuan termasuk informasi dan petunjuk sehari-hari yang berdampak besar bagi kehidupan,” ujarnya.

Kendati demikian, gerakan literasi nasional khususnya berkaitan dengan baca tulis, harus lebih ditingkatkan lagi. Untuk itu siswa harus dibekali kemampuan bernalar aras tinggi (BAT) atau dalam bahasa Inggris yang dikenal dengan higher order thingking skill (HOTS).

Pasalnya, dengan kemampuan bernalar tingkat tinggi seseorang tidak akan terpaku satu pola jawaban yang dihasilkan dari proses menghafal tanpa mengikuti konsep ilmunya.

"Jadi BAT merupakan salah satu tuntutan keterampilan dalam pembelajaran abad 21 yaitu berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif. Semua ini diperolah dari literasi baca tulis dengan memanfaatkan berbagai macam jenis teks,” pungkas Mendikbud.

Membaca 15 Menit
Selain itu, Muhadjir menyebutkan, anak juga dibiasakan dengan penerapan pembelajaran berbasis Steam meliput science (pengetahuan), technology (teknologi), engineering (perekayasaan), dan mathematics (matematika). Pasalnya, dengan menguasai Steam mereka akan siap memecahkan berbagai masalah dan siap menghadapi persaingan global.

Pada kesempatan sama, Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemdikbud, Hurip Danu Ismadi menuturkan, kegiatan bimbingan teknis instuktur literasi ini diikuti oleh 120 orang hasil seleksi dari seluruh provinsi. Mereka terdiri dari guru, penggiat literasi, dan penyuluh bahasa.

"Di sekolah saat ini telah dijalankan GLN yang fokus pada gerakan membaca 15 menit sebelum mulai kegiatan belajar mengajar (KBM). Jadi ini harus terus didorong menjadi sebuah kebiasaan,” ujar Hurip.



Sumber: Suara Pembaruan