ISEI-FEB UAD Gelar Seminar Potensi dan Pengembangan Ekonomi Digital di DIY

ISEI-FEB UAD Gelar Seminar Potensi dan Pengembangan Ekonomi Digital di DIY
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Rabu, 15 Mei 2019 | 13:31 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Ekonomi digital dapat membantu efesiensi ekonomi dan sumber daya manusia. Ekonomi digital juga diprediksi dapat menjadi penyumbang 10% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2025.

Beberapa aktivitas ekonomi di Indonesia sudah mengalami digitalisasi. Aktivitas ekonomi termaksud adalah jasa transportasi, jasa perjalanan (tour and travel), e-commerce, industri kreatif (jasa periklanan, jasa desain, jasa kerajinan, showbiz, jasa riset dan pengembangan), jasa pembuatan website, dan fintech (penyedia jasa keuangan).

Terkait dengan hal tersebut, ISEI cabang Yogyakarta bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta menyelenggarakan diskusi bertema ”Potensi dan Pengembangan Ekonomi Digital di DIY”.

”Dalam diskusi tersebut dihadirkan sejumlah narasumber yang mumpuni, yaitu Rai Rake Setiawatan (dosen FEB UAD) dan Hilman Tisnawan (kepala perwakilan BI DIY)”, ujar Y Sri Susilo, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta, dalam keterangannya yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Diskusi yang dimoderatori oleh Ronny Sugiantoro (wartawan/Humas ISEI Cabang Yogyakarta) tersebut akan dilaksanakan pada Kamis (16/5/2019) pukul 15.15 WIB. Setelah acara diskusi dilanjutkan dengan buka puasa bersama.

Lebih jauh mengenai pentingnya diskusi tersebut, M Safar Nasir, Wakil Rektor II UAD selaku panitia pengarah, mengatakan bahwa ekonomi digital memiliki dampak yang signifikan terhadap pembangunan di Indonesia. Laporan Oxford Economics (2016) menyebutkan bahwa keberadaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB dan jumlah lapangan kerja di Indonesia.

Setiap 1% peningkatan penetrasi mobil diproyeksikan menyumbang tambahan US$ 640 juta kepada PDB Indonesia dan mampu membuka 10.700 lapangan kerja baru pada 2020. Dijelaskan, untuk mengembangkan ekonomi digital, salah satu faktor penting adalah pelaku start up.

Berdasarkan data MIKTI dan Teknopreneur Indonesia (2018), di wilayah DIY terdapat 54 start up yang bergerak di sejumlah bidang usaha, yakni e-commerce (29,63%), fintech (3,70%), game (24,07%), dan lainnya (42,60%). Sementara, masalah utama yang dihadapi oleh start up adalah modal (38,82%), sumber daya manusia (29,41%), fasilitas (15,00%), regulasi dan undang-undang (8,82%), serta pasar (7,94%).



Sumber: BeritaSatu.com