Kemenpora Bersama Universitas Esa Unggul Tumbuhkan Wirausaha Baru

Kemenpora Bersama Universitas Esa Unggul Tumbuhkan Wirausaha Baru
(tengah) Asisten Deputi Kewirausahaan Pemuda Kemenpora, Imam Gunawan menerima cindera mata dari (kedua dari kiri) Wakil Rektor Universitas Esa Unggul bidang Pembelajaran Universitas Esa Unggul, Purwanto Sardjono Katidjan bersama pihak rektorat di sela-sela Kuliah Kewirausahaan Pemuda 2019 di Universitas Esa Unggul, Rabu, 10 Juli 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Hendro Situmorang )
Hendro D Situmorang / CAH Rabu, 10 Juli 2019 | 15:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama Universitas Esa Unggul mulai menumbuhkan wirausaha-wirausaha muda guna meningkatkan taraf hidup dan perekonomian bangsa. Pemerintah dalam hal ini Kemenpora terus menjaga komitmen untuk mencetak entrepreneur khususnya bagi kalangan pemuda-pemudi.

Hal itu dinyatakan saat Kuliah Kewirausahaan Pemuda 2019 yang digelar di Universitas Esa Unggul di Kebon Jeruk Jakarta, Rabu (10/7/2019).

Asisten Deputi Kewirausahaan Pemuda Kemenpora, Imam Gunawan yang mewakili Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Asrorun Ni'am Sholeh mengatakan hal ini merupakan upaya bersama untuk menelorkan pelaku kreatif sebanyak-banyak di era terkini.

“Kita ingin sebanyak-banyaknya menunbuhkan wirausaha muda. Seorang wirausaha itu harus berani memulai berwirausaha, tentu dengan menambahkan daya kreatif bagi generasi muda. Misalnya saja bisnis di bidang fashion atau makanan dengan target pasar mahasiswa atau generasi milenial,” kata Imam.

Menurutnya hal yang terpenting adalah sikap berani, kreatif, inovatif yang disertai karakter atau budi pekerti. Maka dengan demikian bisnis yang dijalaninya menjadi berkah dan dicintai konsumennya.

Kalau usia pelaku wirausahanya semakin muda, maka pengembangan bisnisnya akan menjadi lebih mudah dan berdampak luas. Sementara untuk segala resiko-resiko yang dihadapi nanti, seharusnya bukan menjadi penghalang bagi pebisnis.

“Saya memperhatiakan di kampus ini perhatian wirausaha cukup serius. Misalnya saja mata kuliah wirausaha yang saat ini 2 SKS, rencananya akan ditingkatkan menjadi 9 sks dan disertai adanya inkubator bisnis yang dapat membantu pelaku bisnis bagi para mahasiswa di sini. Hal ini menjadikan bahwa bisnis yang dijalankan menjadi target setiap mahasiswa untuk terus mengembangkannya,” ungkap Imam.

Kemenpora pun menyatakan sangat senang dan menyambut kolaborasi bersama lembaga pendidikan yang didukung pelaku bisnis seperti dari perusahan Astra. Jadi perusahaan tidak hanya memanfaatkan CSR-nya saja, tetapi juga turut ambil bagian dalam memberikan ilmu wirausaha pada calon-calon wirausaha muda.

Kemenpora pun mengajak mahasiswa-mahasiswi untuk serius terjun menjadi wirausaha muda. Dari hasil Kuliah Kewirausahaan Pemuda 2019 ini, ternyata ada beberapa mahasiswa yang sudah terjun langsung dalam berbisnis.

Pihak Kemenpora pun langsung memberikan fasilitas modal masing-masing mahasiswa @sebesar Rp15 juta guna membantu dan meringankan dalam menjalankan roda bisnis. Pemerintah berharap mahasiswa baru pun ada baiknya berani memulai berwirausaha.

Untuk itu, sangat diperlukan pengetahuan dan pengembangan kepada para mahasiswa terkait kewirausahaan terutama pembangunan karakter kewirausahaan. Kampus memang bertugas mencetak sumber daya manusia (SDM) yang berprestasi, tetapi harus juga bisa menghasilkan para wirausaha muda guna membangun bangsa ini bersama.

Wakil Rektor Universitas Esa Unggul bidang Pembelajaran Universitas Esa Unggul, Purwanto Sardjono Katidjan mengatakan hubungan antara lembaga pendidikan beserta pemerintah dalam hal ini Kemenpora mendorong sebanyak mungkin melahirkan wirausaha-wirausaha baru terutama di level pemuda.

“Perkembangan industri 4.0 menuntut perubahan siklus bisnis yang sangat cepat dan menggunakan teknologi terkini seperti internet yang mampu menjelajah lebih luas lagi, sehingga perlu dibuat dengan kreativitas dan inovatif agar generasi muda sekarang mampu melangkah lebih cepat dalam berbisnis,” ungkapnya.

Kalau bisa, lanjut dia, ide-ide bisnis hebat itu diawali seorang entrepreneur yang berkisar di usia 16-20an dan masih single. Jadi nanti saat lulus kuliah atau meraih gelar sarjana di usia maksimal 25 tahun dan sudah bekeluarga, faktoris itu jadi lebih kecil. Inilah yang diharapkan bahwa jiwa wirausaha itu harus tumbuh sejak dini.

“Kami di dunia pendidikan berharap Kemenpora bisa menyokong program kompetisi ide-ide, pameran produk dan inkubator bisnis di kalangan mahasiswa. Kalau semua itu bisa berjalan lancar, maka pemuda-pemudi kita mampu mengembangkan wirausahanya masing-masing,” ungkap Purwanto.

Ia berharap bagi mahasiswa yang sudah terjun dahulu menjalankan roda wirausaha, bisa menularkan virus jiwa entreprenuer ke yang lainnya. Di Universitas Esa Unggul ini pihaknya mulai mengembangkan wirausaha diawali lewat starup dan ide-ide bisnis itu mulai berkembang dari aslinya, tetapi semua itu perlu teredukasi secara benar dan bertahap.

“Kami menargetkan 3-5 persen wirausaha muda yang dari total jumlah mahasiswa di Esa Unggul di tahun 2019 ini. Perkiraan target bisa menciptakan sekitar 150 orang. Maka saya menyarankan agar generasi muda yang ingin menjadi wirausaha tangguh harus mampu berani memulai sebelum selesai kuliah guna berani melatih keberanian dengan kreativitas dan inovatif,” tutup Purwanto. 



Sumber: Suara Pembaruan