Paduan Suara Ajarkan Nilai-Nilai Toleransi dan Kebinekaan

Paduan Suara Ajarkan Nilai-Nilai Toleransi dan Kebinekaan
Paduan Suara UMB memenangi kompetisi "56 Internationaler Chorwettbewerb 2019" di Spital An Der Draw, Austria, Senin, 8 Juli 2019. ( Foto: is )
Asni Ovier / AO Rabu, 10 Juli 2019 | 22:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bangsa Indonesia harus banyak belajar dari paduan suara sebagai salah satu upaya menumbuhkan toleransi dan kebinnekaan. Dalam paduan suara, tidak ada suara yang mendominasi, tidak ada ego, belajar patuh, saling menyesuaikan gerak bersama dan menghasilkan suara yang satu, serta padu dan tidak sumbang. Suara yang indah, kompak, dan memiliki power terwujud karena latihan tanpa jemu dan yang terpenting tunduk pada satu dirigen (konduktor).

Demikian ditegaskan oleh alumnus Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Arissetyanto Nugroho yang juga pembina Paduan Suara Mahasiswa Universitas Mercu Buana (PSM UMB) di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Ha itu dikatakannya terkait dengan kemenangan Paduan Suara UMB dalam kompetisi "56 Internationaler Chorwettbewerb 2019" di Spital An Der Draw, Austria, akhir pekan lalu.

Dalam kompetisi yang berlangsung pada 4-8 Juli 2019 itu, PSM UMB dikonduktori Agus Juwono. PSM UMB meraih Juara Kedua Kategori B dan Juara Keempat Kategori A. Ajang grand prix bergengsi tahunan ini hanya diikuti 10 negara terpilih, di antaranya Amerika Serikat, Afrika Selatan, Republik Slowakia, Republik Ceko, Spanyol, dan Jerman.

Paduan suara, menurut Arissetyanto Nugroho, sangat cocok sebagai wadah anak bangsa untuk penanaman kembali nilai-nilai Pancasila. Paduan suara tidak hanya menyalurkan bakat oleh vokal, tetapi justru juga sebagai sarana yang tepat untuk berinteraksi antara anggotanya dengan berbagai latar belakang, baik suku, agama, ras, dan strata sosial.

“Kegiatan interaktif yang sangat mendukung terwujudnya sila Persatuan Indonesia adalah paduan suara. Dalam kegiatan ini, tidak ada yang menonjol atau pihak yang bisa menonjolkan diri. Semua anggota harus berupaya mewujudkan suara yang padu, kompak, tidak sumbang. Sekali pun ada satu atau beberapa bersuara sangat merdu, dalam paduan suara, suara bagus itu harus menyesuaikan diri dengan yang lain. Kalau ada satu saja suara yang menonjol dalam paduan suara, sudah pasti akan mengurangi nilai arti dari paduan suara itu,” ujar Arissetyanto Nugroho, yang juga mantan Rektor UMB.

Gotong royong, kata dia, adalah inti dari paduan suara. Jika masing-masing anggota paduan suara tidak melakukan gotong royong, suara yang dikeluarkan tidak akan padu. Belum lagi jika paduan suara dituntut untuk melakukan gerak dan tari. Jika tidak mampu merawat perbedaan, menjunjung tinggi etika, menghormati satu sama lain, dan patuh kepada aba-aba dirijen (konduktor) paduan suara yang solid dan kompak tidak mungkin dapat dibentuk.

“Dalam paduan suara juga berlaku musyawarah untuk mufakat. Karena berangkat dari semangat, hobi, dan menderita bersama, segala sesuatunya dibicarakan bersama sebagaimana yang terjadi pada PSM Universitas Mercu Buana. Sebagai pembina, saya bahagia jika melihat mahasiswa dan mahasiswi paduan suara bergurau dengan cara mereka. Saat istirahat latihan, ada satu atau dua anggota yang menyanyi sendiri dan diiringi oleh pianis yang diambilkan dari mereka. Sementara, yang satu bernyanyi, sisanya mendengarkan dan memberi apresiasi ketika rekannya selesai bernyanyi,” kata Arissetyanto Nugroho.

Aris, demikian panggilan akrab mantan Rektor UMB itu, mengatakan, dalam bernyanyi ada satu ungkapan bahasa latin, yakni bene cantat bis orat, yang artinya siapa yang bernyanyi dengan baik, ia sama dengan berdoa dua kali. Artinya, jika anggoa PSM menyanyikan lagu rohani yang dinyanyikan dengan baik, apakah tidak berarti sebenarnya mereka berdoa dua kali.

“Termasuk, jika kita menyanyikan dengan baik lagu nasional, lagu cinta tanah air, lagu kebangsaan, dan lagu perjuangan. Isi lagu itu akan memberikan energi kepada mereka yang menyanyi dan juga memberikan sentuhan semangat lagu yang ada dalam lagu itu,” ujar Arissetyanto Nugroho.

Sebagian bangsa Indonesia belakang ini atau beberapa tahun belakangan, ujar dia, terlampau banyak nada sumbang, nada kebencian, dan nada permusuhan yang dinyanyikan. Jika bangsa Indonesia bersama-sama melantunkan lagu yang indah, bernyanyi dengan kompak dan baik, tentu bukan kebencian dan perpecahan yang terjadi melainkan persatuan.

“Sepertinya, bangsa Indonesia harus banyak menyanyi. Yang kita dengar belakangan ini bukan menyanyi, tetap teriakan dan suara kebencian. Perlu belajar dari mereka-mereka yang menyanyi dalam paduan suara,” kata Arissetyanto



Sumber: BeritaSatu.com