Kemristekdikti Ingin Cetak 10 Unicorn

Kemristekdikti Ingin Cetak 10 Unicorn
Menristekdikti Mohamad Nasir memberikan pidato sambutan saat acara Revitalisasi Pendidikan Vokasi, Jakarta, Rabu 17 Juli 2019. Seminar ini diselenggarakan untuk menjawab ajakan pemerintah kepada sektor industri agar meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, disamping itu untuk membekali siswa didik dengan pendidikan serta keterampilan yang selaras dengan karakteristik dan kebutuhan industri terkait. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Rabu, 11 September 2019 | 10:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mendorong agar pengusaha pemula berbasis teknologi (PPBT) yang dibinanya tumbuh besar menjadi perusahaan unicorn. Unicorn adalah sebuah perusahaan startup yang memiliki valuasi nilai hingga US$ 1 miliar. Valuasi startup adalah nilai ekonomi dari bisnis yang dilakukan sebuah startup. Saat ini di Indonesia ada empat unicorn yakni Gojek, Bukalapak, Tokopedia dan Traveloka.

Perkembangan PPBT di Indonesia pun tumbuh signifikan. Untuk memperkenalkan berbagai produk tersebut ke masyarakat, Kemristekdikti akan menggelar pameran startup teknologi dan inovasi industri anak negeri (I3E) di Jakarta Convention Center 3-6 Oktober 2019. I3E bertema “Startup Teknologi dan Inovasi Industri Meningkatkan Daya Saing Bangsa” ini akan diikuti 396 peserta pameran.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir ingin agar hasil inovasi dari para inovator bisa bermanfaat bagi masyarakat.

"Kami ingin hasil inovasi dari para inovator benar-benar terasa manfaatnya bagi masyarakat dan menumbuhkan sektor industri, khususnya menjawab tantangan dan peluang di era revolusi industri 4.0," katanya di Jakarta, Selasa (10/9).

Sebanyak 396 peserta pameran itu terdiri atas 248 startup PPBT, 130 calon PPBT, tiga perusahaan lanjutan berbasis teknologi (PLBT), dan 15 inovasi industri.

Nasir pun mengaku kaget atas peningkatan jumlah startup. Awalnya Kemristekdikti menargetkan 300 tapi lompatannya sangat jauh yakni mencapai 1.307 sejak tahun 2015.

Sejak 2015, Kemristekdikti telah melakukan program penumbuhkembangan wirausaha rintisan berbasis teknologi dan hasil lembaga penelitian dan pengembangan yang dimanfaatkan industri.

Lima tahun terakhir, Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemristekdikti telah melakukan pembinaan dan penumbuhan startup teknologi yang berasal dari perguruan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan, industri, serta masyarakat umum yang terdiri dari 749 PPBT, 558 calon startup dan 15 inovasi industri.

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemristekdikti, Jumain Appe mengungkapkan, saat ini upaya untuk mendorong inovasi agar layak menjadi startup terus dilakukan.

"Dari startup ini kita harapkan akan muncul unicorn minimal 10% untuk pendukung ekonomi kita ke depan," ucapnya.

Salah satu startup yang mulai masuk ke ranah industri antara lain motor listrik Gesits karya Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang diproduksi massal oleh PT Wijaya Karya (Wika). Selain itu ada pula Compac Motorcycle, Aruna Indonesia, Katalis Merah Putih, dan Kapal Pelat Datar.

Sejak tahun 2015, Kemristekdikti masif mendorong startup anak bangsa berkembang dengan baik dan keluar dari lembah kematian alias ditolak atau tak laku di pasar.

Bahkan di tahun 2019 ini jumlah startup yang didampingi Kemristekdikti mencapai 1.307. Jumlah ini meningkat tajam, dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di tahun 2015, startup asuhan Kemristekdikti ada 54, tahun 2016 ada 207, tahun 2017 ada 665, dan tahun 2018 ada 926. Pendanaannya pun mencapai Rp 400 miliar di 2019. Satu startup yang lolos seleksi akan didanai Rp 250 juta-Rp 500 juta dan diberi pendampingan untuk dihubungkan ke industri serta pengguna.

Jumain menjelaskan, selain PPBT, program lain untuk mendongkrak inovasi industri dilakukan dengan menggali inovasi dari perguruan tinggi dan lembaga pemerintah nonkementerian setiap tahunnya ada 40-50 inovasi yang dicoba dihilirkan ke industri.

"Saat ini inovasi yang sudah dikomersialkan antara lain implan tulang, garam farmasi, rubber air bag, blok karet jembatan, dan ADSB (radar penerbangan)," paparnya.



Sumber: Suara Pembaruan