Kemdikbud Dorong Pengembangan Digitalisasi Sekolah

Kemdikbud Dorong Pengembangan Digitalisasi Sekolah
Pelajar Sekolah Dasar (SD) Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Ebenhaezer, Jayapura, Papua, mendapatkan tuntunan tentang literasi keuangan dengan menggunakan teknologi komputer genggam (tablet), Rabu, 31 Juli 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Robert Isidorus Vanwi' )
Maria Fatima Bona / IDS Rabu, 11 September 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mendorong pengembangan digitalisasi sekolah, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Sekjen Kemdikbud, Didik Suhardi mengatakan, digitalisasi ini dilakukan dengan pemberian fasilitas komputer tablet kepada para siswa di daerah tersebut. Dengan demikian para peserta didik dan tenaga pendidik di wilayah tersebut dapat mengikuti perkembangan zaman melalui teknologi informasi.

"Pada bulan ini, Kemdikbud akan meresmikan digitalisasi sekolah dengan memberikan sekitar 1,7 juta komputer tablet kepada 36.000 sekolah di seluruh Indonesia, khususnya sekolah-sekolah di daerah 3T untuk afirmasi daerah pinggiran. Pada tahun berikutnya, mungkin tahun depan jumlah ini akan ditingkatkan lagi,” jelas Didik usai mendampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, menerima kunjungan Wakil Presiden PT Samsung Electronic Indonesia, Kang Hyun Lee, di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Selasa (10/9).

Didik menuturkan, selain membicarakan tentang dukungan PT. Samsung Electronic Indonesia terhadap program digitalisasi sekolah, pertemuan tersebut juga membicarakan mengenai peningkatan kemampuan teknologi peserta didik dan tenaga pendidikan, khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Dengan demikian, kerja sama tersebut merupakan realisasi program pemerintah untuk merevitalisasi SMK. Kolaborasi ini akan mendorong para siswa dan guru agar tidak tertinggal terhadap perkembangan kebutuhan dunia industri.

“Kerja sama ini merupakan salah satu dari realisasi program pemerintah dalam rangka revitalisasi sekolah terutama SMK, karena kita ingin anak-anak kita ini harus update dengan dunia industri. Jadi ini tentang penyelarasan kurikulum, pelatihan untuk guru dan tenaga kependidikan, kemudian tentu saja tentang siswa,” ujar Didik.

Selanjutnya, ia menjelaskan, implementasi kerja sama ini berupa pelaksanaan praktik kerja lapangan bagi para siswa, yakni lewat sistem pemagangan. “Jadi harapannya ke depan, Samsung bisa menjadi teaching factory bagi anak-anak kita. Dengan demikian, anak-anak kita dapat pelatihan dan juga pada saatnya nanti mungkin sebagian dari mereka bisa bekerja di Samsung,” harapnya.

Sementara itu, terkait dengan kurikulum SMK, Didik menuturkan, kurikulum harus diselaraskan dengan kebutuhan industri. Anak-anak harus belajar teknologi terbaru sehingga ketika lulus mereka siap kerja dengan menggunakan teknologi tersebut.

“Pelatihannya dengan teknologi masa kini, kan banyak sekali yang harus diajarkan di sekolah. Terutama produk-produk Samsung yang pasarannya di sini bagus yaitu TV dan ponsel. Ini sudah dimulai sejak dua tahun lalu. Mereka juga sudah partner dengan SMK, sekarang ada 66 SMK. Tentu kita minta lebih banyak lagi, karena kita punya 5.000 lebih SMK yang punya jurusan TKJ (teknik komputer jaringan, red) yang bisa jadi partner bagi Samsung,” terangnya.

Selain siswa, Didik juga menyebutkan, Kemdikbud mengirim guru-guru Indonesia untuk mempelajari skill yang bisa mengatur gawai dan juga memastikan para guru ini dapat mengajarkan ke anak-anak didiknya.

Sementara itu, Wakil Presiden PT Samsung Electronic Indonesia, Kang Hyun Lee, mengatakan, jumlah guru yang akan mempelajari kemampuan penggunaan gawai akan ditambahkan pada program pemagangan di Samsung Indonesia. Diharapkan, kemampuan ini akan dapat diajarkan lebih baik lagi kepada para siswa di sekolah.



Sumber: Suara Pembaruan