"Riset, Riset, Riset!" Kata Inilah Jantung dari Universitas

Prof Rosari Saleh ( Foto: istimewa )
Willy Masaharu / WM Jumat, 13 September 2019 | 16:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Diakui atau tidak, aktivitas riset sangat penting dalam perkembangan kehidupan dan peradaban manusia. Melalui riset, berbagai pengetahuan baru bermunculan, rentetan teknologi baru terus dikembangkan.

Berbagai kendala dan persoalan yang dihadapi umat manusia amat mungkin ditemukan jawabannya melalui riset. Dan, salah satu motor kegiatan riset ini adalah Universitas.

Maka tak aneh bila usaha penggalakkan riset sangat masif di lembaga pendidikan tinggi saat ini. Hal ini bukan semata untuk mengejar peringkat saja, jauh lebih penting lagi, demi kemajuan kualitas peradaban bangsa Indonesia.

“Riset harus menjadi budaya, terlebih dalam iklim dunia pendidikan di Universitas. Cita-cita yang saya pegang teguh,” kata Prof Rosari Saleh, kepada SP, di Jakarta, Jumat (13/9/9)

Memegang jabatan sebagai Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi, Prof Oca (sapaan akrab profesor Rosari Saleh) berusaha mati-matian memajukan kualitas dan kuantitas riset di Universitas Indonesia (UI).

Prof Oca memang bekerja keras untuk mengubah paradigma tentang penelitian, dan membudayakan riset di dalam kampus. Bukan hanya bagi mahasiswa yang mensyaratkan penelitian dan riset sebagai kelulusan, melainkan juga menyentuh pada riset yang harus dilakukan dosen.

“Cita-cita saya sederhana saja, tetapi bernilai sangat besar. Saya berharap UI dan seluruh kampus di Indonesia kembali meletakkan basis riset sebagai fondasi dasar dalam pengembangan kampus,” kata Prof Oca.

Namun, lanjutnya, hal itu bukan perkara mudah. Selain belum menjadi kebiasaan, bidang riset juga belum menarik minat banyak orang. Karena itu, bisa dikatakan bahwa persoalan ini memiliki tantangan yang berat.

“Ketika saya terpilih menjadi Wakil Rektor III pada tahun 2014 lalu, Saya baru mendapati ada 15% dosen UI yang melakukan publikasi ilmiah di jurnal terindeks Scopus, dan lebih didominasi oleh dosen bidang sains, teknologi, dan kesehatan,” katanya.

Langkah untuk mendorong persoalan riset ini, selama 3 tahun pertama, Prof Oca berusaha meningkatkan publikasi ilmiah di UI. Salah satunya dengan mendorong adanya konferensi internasional di UI, dan kemudian mempublikasikan artikel dalam proceeding, yang lama kelamaan meningkat ke jurnal bereputasi.




Insentif

Sebagai insentif, Prof Oca mewujudkan adanya FTE bagi dosen sebesar 4 SKS untuk penelitian. Hal ini membuat dosen tersebut memperoleh imbalan sebesar Rp 48 juta per tahun. Strategi ini prinsipnya adalah menghargai usaha orang, terutama untuk melakukan penelitian.

“Apabila ada penghargaan yang layak, harapannya akan semakin banyak orang yang meneliti. Inilah yang akan menopang peningkatan jumlah peneliti ke depan,” katanya.

Hasilnya, publikasi internasional terindeks Scopus oleh dosen meningkat dengan sangat signifikan dari 4.124 (selama 64 tahun, sejak tahun 1950-2014) menjadi 9.673 (2014-2019).

Selain itu, Prof Oca juga berusaha mencari terobosan untuk masalah pendanaan riset. Selama ini, masalah pendanaan memang selalu menjadi momok bagi peneliti. Pasalnya, dana dari pemerintah relatif kecil. Bahkan, menurut Prof Oca, hanya sekitar seperlima saja.

Untuk itu, terobosan yang melewati batas 'tembok' ' universitas penting dilakukan. Salah satunya dengan menggalang kerja sama dengan industri di Tanah air. Prof Oca berusaha mengajak industri untuk melakukan riset bersama dengan UI.

Sehingga, diantara keduanya ada kerja sama yang saling menguntungkan. Kampus mendapatkan pendanaan riset, sedangkan sektor industri mendapatkan tenaga ahli serta memenuhi kebutuhan akan penelitian yang dikembangkan. Link and Match adalah kunci yang dipegang bersama.

Kemudian, untuk menata soal penelitian ini, Prof Rosari Saleh bersama jajarannya, mengelompokkan fokus riset di UI menjadi lima yang utama. Yaitu, kesehatan dan kesejahteraan, energi dan sumber daya material, bumi, iklim dan lingkungan, masyarakat inovatif dan terhubung, serta ketahanan dan keamanan.

Kelima bidang ini menjadi fokus riset dan inovasi UI untuk mencapai tujuan utama terciptanya sustainable nation. Ujung dari aktivitas riset ini pada dasarnya adalah pengabdian untuk masyarakat.

Riset-riset yang dilakukan oleh Universitas, dalam pandangan Prof Oca, harus berdampak positif pada kehidupan masyarakat dan kemandirian bangsa ke depan. Riset bukan cuma persoalan peringkat, tetapi harus berkontribusi untuk kemaslahatan masyarakat luas.

“Seluruh kerja keras untuk memajukan penelitian di UI tersebut akhirnya tak sia-sia. Karena UI berhasil meraih penghargaan sebagai institusi dengan produktivitas publikasi tertinggi dalam kategori Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) pada tahun 2018,” katanya.

Dan yang lebih membanggakan lagi, lokomotif dari bidang Riset dan Inovasi di UI ini tak hanya 'jago' berbicara soal penelitian saja, tetapi juga memberikan teladan nyata.

Karena pada tahun yang sama, Prof Rosari Saleh juga meraih penghargaan penulis dengan jumlah publikasi tertinggi 2016-2018 kategori PTN-BH. Inilah pembuktian bahwa kerja tak hanya soal berkata-kata saja.

Sepak terjang Prof Oca di bidang riset dan inovasi memang tak terbantahkan. Srikandi UI ini patut untuk memimpin kampus yang menjadikan riset sebagai fondasi utama di dalamnya.



Sumber: Suara Pembaruan