Pendidikan Kristis GSM Bisa Pangkas Radikalisme di Sekolah

Pendidikan Kristis GSM Bisa Pangkas Radikalisme di Sekolah
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) membekali pelajar di Manado, Sulawesi Utara, pengetahuan tentang bahaya radikalisme, Sabtu (27/7/2019). ( Foto: istimewa )
Unggul Wirawan / WIR Senin, 7 Oktober 2019 | 19:08 WIB

Tangerang, Beritasatu.com- Pembahasan mengenai intoleransi dan radikalisme agama terbilang cukup gencar di Indonesia. Sementara paham radikalisme yang mengkhawatirkan memang mulai subur di sekolah-sekolah. Sebagai salah satu alternatif, pendidikan kristis Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) bisa memangkas paham radikalisme di sekolah-sekolah.

Radikalisme tentu sangat mengkhawatirkan jika menilik hasil penelitian mencengangkan yang dirilis oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terkait radikalisme pada 2018 lalu. Sebesar 57,03% guru di Indonesia di level SD dan SMP ternyata memiliki pandangan intoleran. Bahkan, Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) lebih dulu menemukan hasil penelitian bahwa 48,9% siswa mendukung adanya tindakan radikal.

Dalam siaran pers, Senin (7/10)), Muhammad Nur Rizal, pendiri GSM, mengatakan bahwa sekolah sebagai institusi pendidikan bisa menjadi jalan retasan untuk menghadapi masalah radikalisme. Sekolah-sekolah perlu menggalakkan cara belajar yang mengakomodasi pikiran kritis.

“Anak-anak juga perlu diberi ruang untuk belajar memahami keberagaman informasi dan literasi digital, terutama di pendidikan dasar dan keluarga. Pendidikan di sekolah tidak boleh mengukur prestasi anak hanya dari angka atau nilai ujian, melainkan harus merangsang kekritisan berpikir,” katanya.

GSM sebagai gerakan akar rumput di bidang pendidikan telah dan akan terus mengubah paradigma pendidikan. Dalam proses, GSM berjuang untuk mengubah nalar standardisasi yang monoton, menjadi nalar personalized yang mampu mengasah daya pikir kritis anak secara lebih baik. Dengan mengasah daya pikir kritis anak, radikalisme tidak akan memiliki lahan untuk tumbuh subur.

“Budaya dan pembelajaran di sekolah perlu diperbanyak dengan memantik pertanyaan dan diskusi agar anak-anak berusaha mencari jawaban dari berbagai referensi. Mempersiapkan generasi yang kritis dan melek digital adalah kunci, agar mereka tidak gampang terpancing paham radikalisme yang memanfaatkan kemajuan teknologi,” tandas Nur Rizal.

Data radikalisme mengindikasikan bagaimana satu paham alternatif berusaha menggeser ideologi Pancasila dan pengaruhnya mulai merasuk di setiap lapisan masyarakat. Ironisnya, radikalisme sudah menyasar salah satu sendi strategis bangsa, yakni pendidikan.

Tren radikalisme tentu secara gamblang menunjukkan kepada bangsa Indonesia bahwa permasalahan radikalisme sudah menjadi masalah bersama, masalah nasional, dan cenderung akut. Pendidikan bisa menjadi jalan retasan untuk menghadapi potensi permasalahan seperti ini.

Sebagai arena menuntut ilmu bagi generasi muda, menurut Nur Rizal, sekolah memang rawan terjangkit radikalisme, namun sekaligus bisa menjadi titik awal untuk mematikan benih tersebut dan menciptakan mekanisme untuk melindungi generasi dari pengaruh negatif apa pun. Jika sekolah-sekolah mampu menciptakan situasi seperti ini, kiranya tidak ada yang perlu ditakutkan oleh Indonesia.



Sumber: Suara Pembaruan