JIS Dukung Pemulihan Trauma Anak Korban Gempa di Lombok Timur

JIS Dukung Pemulihan Trauma Anak Korban Gempa di Lombok Timur
Ilustrasi anak-anak korban gempa di Lombok ( Foto: istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Rabu, 9 Oktober 2019 | 22:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bencana gempa bumi pada Juli 2018 menyisakan trauma mendalam pada warga Lombok Timur, khususnya anak-anak usia di bawah 6 tahun. Sebagai wilayah terluas di Nusa Tenggara Barat (NTB), kawasan ini memiliki sekitar 400 lokasi Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang menangani sekitar 16.000 anak. Separuh dari jumlah seluruh sekolah itu mengalami kerusakan.

Baca Juga: Siapkan Guru Berkualitas, Kemdikbud Gandeng Sekolah Internasional

Kepala Balai Pengembangan PAUD dan Pendidikan Masyarakat Nusa Tenggara Barat, Drs Suka MPd, mengatakan, lebih dari 200 sekolah TK dan PAUD terdampak bencana tahun lalu.

"Walau masih ada trauma, anak-anak masih antusias untuk melakukan kegiatan belajar di bangunan sementara maupun tenda-tenda. Beberapa bangunan permanen juga sudah berdiri. Namun, anak-anak sempat mengeluh panas karena tidak ada kipas angin,” kata Suka dalam keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, Rabu (9/10/2019).

Meski terdengar seperti keluhan sederhana, anak-anak di wilayah bencana sesungguhnya mengalami problem yang jauh lebih berat sehingga sulit menerima pelajaran.

Baca Juga: Siswa JIS Belajar Budaya Melalui Ajang Indonesia Week 2019

Head of School Jakarta Intercultural School, Tarek Razik, mengatakan, kondisi yang dialami oleh para anak korban bencana di Lombok merupakan panggilan agar tim Jakarta Intercultural School (JIS) dapat bertindak. Pihaknya mengirim Greg Zolkowski, Community Educational Outreach Coordinator JIS dan tim ke lokasi bencana di Selong, NTB, pada akhir September lalu.

"Periode TK dan PAUD merupakan masa kritis bagi anak-anak untuk mengembangkan ketrampilan kognitif, kompetensi sosial, emosi serta kesehatan mental. Ini adalah pondasi bagi mereka untuk meraih sukses saat dewasa,” kata Tarek Razik.

Menurut Tarek, JIS tergerak untuk membuat para murid kembali bersemangat dalam belajar melalui workshop bagi para guru. "Dalam misi ini, JIS membawa tim khusus yang mengajarkan para guru TK dan PAUD di Lombok Timur agar dapat memotivasi anak belajar melalui bermain atau learn through play," jelasnya.

Tarek menambahkan, bermain adalah salah satu cara penting bagi anak dalam menggali ketrampilan dan kemampuan berpikir. Anak pun dapat terlibat aktif secara fisik dan mental dalam pengalaman ini sehingga mereka dapat berekspresi, merasakan tantangan baru serta mencari tahu lebih jauh tentang lingkungan di sekitarnya. "Kegiatan ini, sekaligus juga merupakan rangkaian dari upaya JIS untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia," kata Tarek.

Community Educational Outreach Coordinator JIS, Greg Zolkowski, menambahkan, tantangan mengajak anak belajar sambil bermain di lokasi pasca-bencana cukup besar. Pasalnya, guru-guru di Lombok kesulitan menemukan alat bermain yang memadai.

"Karena itu, tim JIS menginspirasi para guru setempat agar lebih kreatif memanfaatkan benda maupun barang bekas dari lingkungan sekitar yang tetap bisa digunakan untuk menggali kemampuan anak dalam proses belajar. Mereka bisa menyentuh dan merasakan langsung benda-benda, seperti kayu, daun-daun kering, botol atau barang bekas lain. Workshop ini dilakukan dengan perspektif bahwa guru-guru di wilayah bencana ini tidak memiliki sumber daya apapun di lapangan," jelas Greg.



Sumber: BeritaSatu.com