Nadiem Akan Beri Kemerdekaan Belajar dalam Pendidikan

Nadiem Akan Beri Kemerdekaan Belajar dalam Pendidikan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (tengah) bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 6 November 2019. ( Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso )
Maria Fatima Bona / CAH Kamis, 7 November 2019 | 08:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan akan memberikan kebebasan dan kemerdekaan dalam belajar mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga mahasiswa dan termasuk guru dan dosen. Tidak hanya siswa dan mahasiswa saja, menurutnya guru dan dosen juga ingin diberikan kebebasan untuk melakukan hal yang lebih mengarah ke industri 4.0.

Kebebasan yang tidak hanya akademis saja, yakni sistem pembelajaran tidak hanya di kelas tetapi bisa dimana saja.

"Jadinya tema saya adalah mereka belajar mau di perguruan tinggi sampai ke dasar menengah sampai PAUD adalah merdeka belajar. Menurut saya pendidikan karakter nggak bisa terjadi tanpa kemerdekaan tersebut," kata Nadiem saat bertemu dengan Forum Wartawan Pendidikan (Fortadik) di ruang kerjanya di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan(Kemdikbud), Rabu(6/11/2019).

Nadiem menambahkan, kebebasan dalam belajar ini untuk mewujudkan pendidikan karakter yang merupakan salah satu arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Maka, ia mengembangkan pendidikan karakter dengan cara kekinian yang mudah diterima oleh generasi milenial.

"Pendidikan karakter akan dilanjutkan dan dibesarkan, dijadikan suatu hal yang lebih tangible untuk generasi milenial kita juga. Jangan lupa sekarang kebanyakan orang tua murid sudah generasi milenial dan guru-guru pun banyak yang muda. Jadi cara kita menyampaikan pendidikan karakter enggak bisa dengan tolong baca buku ini, kurikulumnya ini, enggak cukup," ujarnya.

Nadiem juga menyebutkan, pendidikan karakter ini akan dijalankan dalam bentuk kegiatan sehingga para siswa dan mahasiswa dapat melihat contoh dari orang dewasa sebagai panutan, yakni orang tua dan guru.

Baca JugaJokowi Minta Nadiem Manfaatkan Teknologi Tingkatkan Pendidikan

Selanjutnya, Nadiem menuturkan, selain kedua panutan, pendekatan langsung ke masyarakat melalui komunikasi langsung mengenai apa itu karakter, norma-norma yang baik, apa itu perilaku yang baik, bagaimana cara mendidik anak di rumah dan di sekolah dengan cara yang baik dengan berbagai macam hal yang mungkin banyak yang belum tahu.

"Misalnya jika anak menanyakan pertanyaan sebetulnya itu hal yang baik. Itu harus selalu didorong untuk menanyakan sebanyak mungkin. Banyak bertanya bukan artinya anak itu bodoh tetapi pintar karena serius ingin tahu," terangnya.

Soal UN dan Kurikulum

Pada kesempatan sama, Nadiem juga menjawab sejumlah pertanyaan seperti terkait Ujian Nasional (UN), kesejahteraan guru, hingga kurikulum. Nadiem menuturkan, UN sama seperti sistem zonasi yang saat ini sedang dikaji dengan mempertimbangkan pendapat dari para guru dan orang tua mengenai UN dan zonasi. "Jadi sedang kami kaji dari struktur sama tim feedback-nya. Jadi saya belum ada keputusan apa-apa, saya akan kaji ulang," katan pendiri Gojek tersebut.

Khusus untuk kurikulum, Nadiem menuturkan, sesuai arahan Presiden Jokowi, perubahan kurikulum yang dimaksud bukan hanya konten, melainkan penyederhanaan dan bukan sekedar hafalan. "Ini adalah PR saya untuk bisa mengubahnya, tapi itu bukan sesuatu yang bisa diubah dalam waktu cepat. Butuh pemikiran yang sangat matang dan butuh insight dari para guru-guru dan pihak lainnya. Jadi sebenarnya, apa basis saya untuk melakukan berbagai macam penyempurnaan dan penyederhanaan dan perubahan kurikulum, itu mengacu pada guru," tuturnya.

Nadiem menjelaskan, kurikulum yang desain harus berguna untuk bagi guru. Pasalnya, kunci pendidikan adalah guru karena mereka adalah pihak yang paling mengetahui seperti apa yang relevan untuk muridnya dan lain-lain. Dalam hal ini, Nadiem memastikan proses perubahan dan penyempurnaan kurikulum akan dilakukan berdasarkan masukan dari guru. 

Menurut Nadiem, dalam pendidikan peran guru sangat penting. Teknologi itu hanya sebuah pendamping untuk menciptakan banyak hal dalam pendidikan seperti melakukan perubahan pelatihan guru.

"Dengan teknologi apa keuntungannya. Kita bisa mencapai pemerataan yang lebih baik sehingga konten-konten misalnya pelatihan guru, lesson planned, yang lain-lain itu bisa di daerah-daerah terpencil pun yang punya akses misalnya ke 3G, itu bisa dapat mengaksesnya yang sama di Jawa atau di kota. Tentunya masih banyak sekali yang perbaikan yang harus dilakukan dalam proses internet dan lain-lain. Ini juga merupakan PR kita bersama kementerian lain, untuk pemerataan," tuturnya.

Selain itu, Nadiem juga menuturkan, dengan mengunakan teknologi, para guru bisa memiliki kebebasan memilih apa yang lebih cocok untuk mereka berdasarkan materi pelajaran mana atau pelatihan yang menurut mereka itu lebih cocok.

"Jadi dengan teknologi semua bisa terjadi. Teknologi ini mendampingi, teknologi adalah tools hanya suatu alat bukan segalanya. Ujung-ujungnya adalah kualitas pembelajaran dalam kelas yaitu interaksi antara guru dan murid itu esensinya teknologi yang mendukung apa yang terjadi dalam kelas," ujarnya.

Baca JugaSelain Digitalisasi Pendidikan, Ini PR Besar Mendikbud

Nadiem menuturkan, memberi kebebasan pada guru ini berdasarkan hasil audiensi dengan para guru, penggiat pendidikan dan organisasi- organisasi guru yang menginginkan kebebasan dan kemerdekaan.

"Mereka ingin kebebasan dan kemerdekaan untuk apa yang terbaik bagi muridnya. Itu bikin saya sangat terharu mendengar motivasi mereka karena menurut saya yang terpenting dari guru adalah purpose dia atau hatinya. Hatinya itu mau ke mana. Kalau hatinya itu untuk murid dan untuk yang terbaik untuk murid itu kompetensi yang dipelajari dari manapun untuk mencapai yang terbaik bagi muridnya," ujarnya.

 



Sumber: BeritaSatu.com