2020, Bandar Antariksa Kecil Dibangun di Biak

2020, Bandar Antariksa Kecil Dibangun di Biak
Observatorium Bosscha Bandung ( Foto: Istimewa )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Kamis, 7 November 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) akan segera membangun bandar antariksa skala kecil di Pulau Biak, Papua. Meski berskala kecil, Lapan bisa menguji kemampuannya coba peluncuran roket.

Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin mengatakan, pembangunan bandar antariksa di Pulau Biak ini tidak dapat dilakukan oleh Lapan sendiri. Sebab, di dalam lingkungan bandar antariksa tersebut harus dilengkapi dengan fasilitas pokok dan fasilitas penunjang.

Dalam mencari lokasi bandar antariksa terbaik, Lapan telah melakukan kajian terhadap alternatif lokasi di wilayah lainnya seperti Pulau Enggano, Pulau Nias, Pulau Morotai, dan Pulau Biak.

"Dari beberapa lokasi tersebut yang memenuhi persyaratan teknis sebagai lokasi pembangunan bandar antariksa salah satunya adalah pulau Biak, Desa Soukobye, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua yang merupakan tanah Lapan," katanya di Jakarta, Rabu (6/11).

Thomas menjelaskan, Biak dipilih menjadi calon lokasi bandar antariksa karena memiliki keunggulan kompetitif, yaitu sangat dekat dengan ekuator atau garis Khatulistiwa.

Wilayah tersebut terletak pada titik koordinat 0º55′-1º27′ lintang selatan (LS) dan 134º47′-136º48 bujur timur (BT). Posisi tersebut sangat baik sebagai tempat peluncuran roket peluncur satelit (RPS) ke geostationary earth orbit (GEO) dan berdampak positif pada penghematan penggunaan bahan bakar roket ketika peluncuran.

"Bandar antariksa ditetapkan akan dibangun di Biak. Alasannya, Biak paling dekat ke ekuator dengan lintang sekitar 1 derajat selatan. Kami bagi dua jenis karena alasan anggaran dan kompleksitasnya," ungkapnya.

Dengan lahan yang dimiliki Lapan seluas 100 hektare dan terbatasnya anggaran, yang akan dibangun adalah bandar antariksa skala kecil. Bandar antariksa besar akan dibangun nantinya dengan mitra internasional.

Terkait berapa anggaran yang dibutuhkan, Thomas belum bisa menyebut secara pasti karena anggaran belum dihitung secara total dan sedang dikaji.

Ia menambahkan, pembangunan bandar antariksa di wilayah Indonesia merupakan amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaaan untuk mewujudkan kemandirian di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) penerbangan dan antariksa. Di antaranya adalah pengembangan teknologi roket, khususnya teknologi RPS yang dapat membawa wahana ke orbit.

Untuk pembangunan wahana ini, Thomas menjelaskan, pada tahun 2020 dimulai tahapan kajian dan perencanaan. Ditargetkan, pada 2024 tahap awal akan selesai untuk uji terbang roket bertingkat yang sekarang sedang dikembangkan.
"Bandar antariksa akan digunakan untuk uji terbang pengembangan roket dan operasional peluncuran satelit dengan wahana roket," ucapnya.

Observasi Nasional
Sebelumnya, Lapan sudah lebih dahulu membangun fasilitas observasi nasional antariksa di Gunung Timau, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ditargetkan, fasilitas ini akan beroperasi pada tahun 2020.

Observasi nasional ini berfungsi untuk penelitian antariksa dengan pengamatan objek-objek astronomi. Selain itu, kehadiran fasilitas ini diharapkan mendorong pendidikan di kawasan timur Indonesia.

Thomas menambahkan, di wilayah sekitar observasi nasional ini juga dibangun kawasan taman nasional langit gelap. Lokasi wisata ini khas dan menarik karena wisatawan nantinya dapat menikmati keindahan alam dan langit di malam hari tanpa terganggu polusi cahaya.

Observasi nasional di Timau ini dirancang untuk melengkapi observasi Bosscha Lembang Jawa Barat yang sudah terpapar polusi cahaya dari kawasan Bandung Raya. Biaya pembangunan observasi nasional Timau ini mencapai Rp 300 miliar.

Fasilitas pengamatan antariksa ini juga akan dilengkapi teleskop optik 3,8 meter. Diharapkan, lanjut Thomas, fasilitas wahana keantariksaan ini mampu memacu perkembangan iptek di wilayah Indonesia timur.



Sumber: Suara Pembaruan