UGM Gandeng Grab Persiapkan SDM Andal

UGM Gandeng Grab Persiapkan SDM Andal
Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia, Bambang Agus Kironoto, dan Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi, mencoba Grabwill usai menandatangani nota kesepahaman (MoU) dalam rangka mempersiapkan tenaga ahli dalam menyongsong Industri 4.0 Indonesia serta mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada Masyarakat, di ruang Rektor UGM, Jumat (8/11/2019) petang. ( Foto: Beritasatu Photo / Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / WBP Sabtu, 9 November 2019 | 09:35 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Universitas Gadjah Mada bersama Grab Indonesia resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dalam rangka mempersiapkan tenaga ahli dalam menyongsong industri 4.0 Indonesia serta mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat.

Penandatanganan kerja sama dilakukan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia, Bambang Agus Kironoto, dan Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi, di ruang Rektor UGM, Yogyakarta, Jumat (8/11/2019). Penandatanganan MoU tersebut menggarisbawahi komitmen Grab dalam memberikan dampak positif dan berkelanjutan untuk Indonesia.

Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan, sebanyak 16 persen generasi muda di Asia Tenggara berkeinginan bekerja di sektor teknologi masa depan. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan Grab meluncurkan program kontribusi sosial Grab for Good di bulan September lalu.

Melalui kerja sama ini ia berharap dapat mendukung tujuan Grab for Good untuk membangun angkatan kerja yang siap menyambut masa depan bersama dengan institusi pendidikan terkemuka seperti UGM.

“Melalui kerja sama ini diharapkan dapat mendukung salah satu tujuan Grab for Good untuk membangun angkatan kerja yang siap menyambut masa depan. Bersama dengan institusi pendidikan terkemuka seperti UGM, lembaga nirlaba dan perusahaan teknologi terdepan kami ingin melatih 20.000 siswa melalui inisiatif pengembangan talenta teknologi di seluruh Asia Tenggara,” kata Neneng Goenadi.

Kemitraan strategis antara Grab dan UGM akan berlangsung hingga 2 tahun ke depan dan dijalankan dalam tiga tahapan. Tahap pertama membangun infrastruktur pengaturan kegiatan operasional dan peningkatan fasilitas pelayanan yang terdiri dari manajemen titik penjemputan dan pengantaran, halte khusus transportasi online, shelter bertenaga sinar matahari serta peluncuran skuter listrik ramah lingkungan GrabWheels di lingkungan kampus UGM.

Tahap kedua program pendukung pendidikan, seperti sponsorship dan pengadaan aktivitas kampus yang terdiri dari beasiswa transportasi bagi mahasiswa, layanan Grab for Business bagi civitas akademika UGM, promosi kegiatan UGM di aplikasi Grab, dukungan crowdfunding melalui Dana Sahabat UGM serta sponsorship kegiatan kampus.

Tahap ketiga program untuk menyelaraskan antara pendidikan dengan kebutuhan industri 4.0 Indonesia, yang terdiri dari kesempatan magang dan Management Trainee Grab bagi mahasiswa UGM, program dosen tamu, serta kerja sama dalam hal riset dan pengembangan.

Sementara Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia dan Aset, Bambang Agus Kironoto, menyatakan dalam era revolusi industri 4.0 yang dulu belum terpikirkan sekarang menjadi nyata. Mungkin pula yang sekarang tidak terpikirkan, sekian tahun ke depan bisa menjadi sesuatu yang nyata.

“Dulu tidak berpikir ada Grab. Tidak terpikir cara berkomunikasi jarak jauh, kini cukup dengan skype, whatsapp dan sebagainya, kita tidak pernah berpikir soal itu," kata Bambang Agus Kironoto.

Dengan Grab memudahkan orang bisa pergi kemana saja, dari satu tempat ke tempat lain. Apalagi melihat kondisi Jogja yang akhir-akhir ini sudah macet maka kehadiran Grab sangat membantu.

“Mau belanja tinggal buka aplikasi, juga ke luar negeri grab sangat membantu. Karenanya upaya kerja sama ini kita sambut sangat positif, semoga memberi manfaat yang besar salah satunya yang kami harapkan dapat mengurangi transportasi di dalam kampus UGM," ucap Bambang Agus Kironoto.

Bambang Kironoto mengakui pengguna kendaraan dalam kampus UGM saat ini sangat banyak sehingga mengalami kesulitan dalam penyediaan lahan parkir yang memadahi. Diharapkan kerja sama dengan Grab membantu solusi transportasi dalam kampus UGM.

“Kalau memungkinkan dengan kerja sama ini mahasiswa tidak usah bawa mobil, cukup dengan Grab dan transportasi yang lain. Bisa mengurangi polusi, lebih tertib, nyaman," ujar Bambang Agus Kironoto.



Sumber: Suara Pembaruan