Siswa Didenda Nonton Barongsay, Ini Respons Kemdikbud

Siswa Didenda Nonton Barongsay, Ini Respons Kemdikbud
Pertunjukan barongsai ( Foto: BeritaSatu Photo / Mohammad Defrizal )
Maria Fatima Bona / RSAT Jumat, 14 Februari 2020 | 11:07 WIB

Jakarta, Beritastu.com - Dunia pendidikan kembali dihebohkan dengan berita viral siswa sekolah dasar SD 43 Sagatani Singkawang Selatan, Kalimatan Barat (Kalbar) mengaku didenda oleh guru dan kepala sekolah senilai Rp 30.000 per siswa, karena ketahuan menonton barongsai pada saat perayaan Cap Go Meh.

Merespons hal tersebut, Plt Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Dasar dan Menengah (PAUD dan Dikdasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Harris Iskandar mengatakan, pihaknya telah berkordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Lembaga Ppenjaminan Mutu Pendididikan (LPMP) Kalbar terkait kejadian tersebut.

“Sangat disesalkan kejadian tersebut. Budaya, bahasa, sejarah, dan kehebatan militer itu sumber identitas bangsa yang utama. Guru harus paham itu dulu,” kata Harris saat dihubungi Beritasatu.com, Kamis (13/2/2020).

Harris menuturkan, berdasarkan informasi yang terbaru,  Kamis(13/2/2020) petang, kepala LPMP Kalbar telah menyampaikan kronologis permasalahannya setelah melakukan konfirmasi dengan petugas kepolisian di Singkawang Selatan.

Dalam hal ini, guru sudah menyampaikan permohonan maaf, dan semua pihak bersepakat, bahwa persoalan ini dianggap sudah selesai, termasuk pihak yang memviralkan, sudah bersedia menghapus kontens tersebut.

Selanjutnya,  terkait pengakuan denda Rp 30.000 kepada siswa karena melaksanakan edaran Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalbar yaitu tidak boleh mengikuti kegiatan atau terlibat pada perayaan barongsai Cap Go Meh. Larangan itu khusus terlibat langsung pada acara ritual.

Merespons kejadian tersebut, Sekjen MUI Pusat, Anwar Abbas mengatakan, jika hanya menyaksikan perayaan barongsai Cap Go Meh diperbolehkan. Akan tetapi, untuk terlibat dalam perayaan memang tidak diperbolehkan sesuai ajaran agama Islam.

“Terlibat dalam upacara enggak boleh itu. Itu kan ketentuan dalam agama Islam jadi otomatis enggak boleh ikut, tapi seremonial boleh-boleh saja karena bukan ritual, karena yang dilarang MUI itu ikut terlibat dalam upacara ritual,” ujarnya.

Anwar menambahkan, adanya larangan terlibat karena terkait dengan keyakinan. Dalam hal ini apabila umat Islam terlibat tentu sama saja masuk dalam keyakinan agama lain.

Apakah larangan itu tidak mengusik toleransi beragama. Nah di situ diuji toleransi beragama. "Toleransi itu kan karena berbeda kalau enggak berbeda untuk apa toleransi. Karena ini berbeda keyakinan perlunya toleransi supaya masing-masing pihak jangan memaksakan keyakinan kepada pihak lain,” ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com