UN 2020 Dibatalkan, FSGI: Anggarannya Lebih Baik untuk Corona

UN 2020 Dibatalkan, FSGI: Anggarannya Lebih Baik untuk Corona
Ilustrasi ujian nasional berbasis komputer. ( Foto: Antara / Harviyan Perdana Putra )
Maria Fatima Bona / IDS Selasa, 24 Maret 2020 | 14:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim, mengapresiasi dan mendukung keputusan pemerintah meniadakan pelaksanaan ujian nasional (UN) untuk semua tingkatan. Untuk itu, Satriwan menyarankan agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengalihkan anggaran pelaksanaan UN untuk membantu penanganan penyebaran corona.

“Ini lebih bermanfaat ketimbang dana dipakai untuk pelaksanaan UN yang juga tak ada manfaatnya lagi bagi anak-anak kita,” kata Satriwan dalam siaran pers yang diterima Beritasatu, Selasa (24/3/2020).

Satriwan menyebutkan, sudah saatnya UN ditiadakan karena kedudukan, tujuan, dan fungsi UN sudah tak relevan. Misalnya pada jenjang SMA/SMK, hasil UN tak bermanfaat secara praktis untuk masuk ke perguruan tinggi. Sebab, masuk perguruan tinggi negeri (PTN) tidak lagi mempertimbangkan hasil UN, melainkan melalui jalur undangan dengan melihat nilai rapor untuk SNMPTN dan ujian tulis berbasis komputer (UTBK) untuk SBMPTN.

Selain itu, kebijakan zonasi dalam penerimaa peserta didik baru (PPDB) untuk masuk jenjang SMP dan SMA juga tidak mencantumkan jalur prestasi dari hasil UN, melainkan dari berbagai prestasi. Ini termasuk prestasi non-akademik seperti bidang vokal, seni, debat, olahraga, musik dan lainnya. Artinya, nilai UN bukan lagi satu-satunya parameter prestasi siswa.

Oleh karena itu, Satriwan mengatakan, kebijakan meniadakan UN ini bermanfaat besar bagi peserta didik dan guru. Sebab, energi siswa, guru, dan orang tua akan lebih fokus kepada persiapan tes UTBK atau Seleksi Mandiri PTN.

“Para siswa akan fokus belajar menyiapkan itu semua,” ujarnya.

Untuk itu, Satriwan berharap semua elemen pendidikan mematuhi kebijakan Presiden Jokowi, dengan tidak membuat penilaian ujian sekolah daring.

“Semoga ini tidak terjadi karena sama saja akan mempersulit siswa, guru, dan orang tua dari aspek persiapan teknis, kesiapan SDM guru, dan tenaga teknis lain. Belum lagi kesiapan infrastruktur, mengingat Indonesia sangat luas dengan geografis yang unik. Apalagi di tengah kondisi bencana nasional seperti sekarang,” ucap Satriwan.



Sumber: BeritaSatu.com