Glamornya Hitam dan Emas di Pembukaan Fashion Nation

Glamornya Hitam dan Emas di Pembukaan Fashion Nation
Rancangan Ronald V Gaghana pada malam pembukaan Fashion Nation Sixth Edition, Rabu (11/4) di Senayan City. ( Foto: Arselan Gani )
/ WEB Kamis, 12 April 2012 | 15:45 WIB
Empat desainer mengulik warna hitam dan emas.

Untuk kali keenam, Fashion Nation, ajang tahunan perayaan fashion yang diadakan oleh Senayan City kembali dimulai. Mulai dari tanggal 11-22 April 2012, ajang Fashion Nation mengetengahkan tema Noir et Blanc The Ultimate Style akan menghadirkan inspirasi hitam putih yang meski warna natural, punya peranan penting dalam dunia fashion.

Di malam pembukaan Fashion Nation Sixth Edition, Rabu (11/4), empat desainer Indonesia yang sudah kenamaan dengan gaya rancang unik mereka; Priyo Oktaviano, Sapto Djojokartiko, Denny Wirawan, serta Ronald V Gaghana memamerkan kebisaan mereka mengolah bahan menjadi karya fashion.

Dibuka oleh Priyo Oktaviano untuk second line-nya, Spous, koleksi dengan inspirasi putih dan emas mewarnai panggung.

Menggunakan tenun berwarna putih yang dipadankan dengan bahan dan benang emas, Priyo membuat beberapa gaya rancang yang mencerminkan kesibukan seorang perempuan dari pagi hingga malam.

"Sesuai tema yang dihadirkan oleh Senayan City, saya membawakan koleksi bergaya ladylike. Biasanya saya berkoleksi edgy, tetapi untuk kali ini, saya menghadirkan koleksi yang edgy, feminin, tetapi ready to wear," jelas Priyo kepada Beritasatu.com saat konferensi pers akhir Maret lalu.

Dijelaskan lelaki yang sudah 2 tahun ini diajak bekerjasama dengan Cita Tenun Indonesia, ia menampilkan koleksi-koleksi  yang menggunakan bahan dari tenun Bali.

"Saya menggunakan songket Bali dari Desa Cinangdalem, ini merupakan kerjasama dengan Garuda Indonesia dan Cita Tenun Indonesia. Kali ini sesuatu yang baru, berupa white on white, white on silk. Dari jauh, kesannya seperti kain impor Prancis yang mewah, tetapi begitu dekat, akan terlihat, ini merupakan kain tenun," jelasnya.

Dalam koleksinya malam itu, Priyo mengakui, bagi yang tidak mengetahui cerita di baliknya, mungkin akan kebingungan. "Karena saya menceritakan kesibukan perempuan dari pagi hingga malam. Makanya ada busana sporty untuk pagi hari, ada busana semi formal, ada juga busana untuk high tea, lalu busana anggun untuk dinner, dan busana untuk party," katanya.

Inti yang ingin diceritakan Priyo adalah, "Betapa sekarang perempuan sudah bisa bebas melakukan apa yang ia inginkan. Sudah tidak lagi seperti pada zaman Siti Nurbaya. Benar-benar perempuan dan lelaki sudah sejajar. Mungkin lebih kuat, karena bisa adaptasi dengan mudahnya. Perempuan itu interesting dan mysterious."

Sementara Denny Wirawan, dengan tema Glorious Heritageous, usai peragaan bercerita kepada Beritasatu.com, ia berusaha mengangkat motif batik Pekalongan yang dibuat bergaya kontemporer dan modern.

"Motif batiknya geometrik, tanpa bunga atau lengkung. Spesialnya, dipadankan dengan tie dye dari campuran organdy silk. Mix and match batik hitam putih klasik yang colorful. Warna-warnanya shocking, pink, dan lainnya. Sementara untuk detail di beberapa baju, saya gunakan embellishment dari bahan acrylic dan resin. Tinggal ditata supaya mengikuti motif batiknya," jelas Denny yang mengaku koleksi yang ia tampilkan sempat dibawa ke San Fransisco, Amerika Serikat untuk dipertunjukkan.

Ronald V Gaghana tampak menghadirkan koleksi busana perempuan untuk cocktail. Dress pendek dan maksi menghiasi panggung dengan warna-warna gelap serta ornamen emas dan dominasi hitam. Dengan gaya peplum pada dress siluet little black dress ala Audrey Hepburn dalam film Breakfast at Tiffany's makin menguatkan kesan ini adalah koleksi cocktail atau high tea.

Sebagai penutup, koleksi Sapto Djojokartiko yang penuh drama, lengkap makin menonjolkan keahlian sang desainer mengolah kain.

Koleksi malam itu, diakui Sapto, merupakan koleksi ready to wear yang merupakan kelanjutan dari desain yang sempat ia tampilkan di ajang Jakarta Fashion Week tahun lalu yang berjudul Calon Arang.

"Sambungan dari koleksi sama. Busananya saya buat lebih tone down. Masih banyak detail, warna palet, dan volume sama," jelasnya usai peragaan.

Sapto bercerita, koleksi malam itu merupakan inspirasi dari budaya Bali.

"Kisah Calon Arang ada mistis dan romantis. Makanya banyak warna gelap, ada juga warna emas di Bali yang dominan. Fabrikasinya dari embroidery, tulle, lace (French dan yang motifnya dibuat sendiri), dan lainnya," jelas Sapto yang mengaku meriset inspirasi ini selama 6 bulan, lewat literatur, internet, serta buku-buku Sansekerta.