Psikolog: Pujian Berpotensi Menyakiti Kepercayaan Diri Anak

Psikolog: Pujian Berpotensi Menyakiti Kepercayaan Diri Anak
Orangtua dan anak. ( Foto: Freedigitalphotos/Photostock )
/ WEB Rabu, 16 Januari 2013 | 09:51 WIB
Bisa dianggap anak sebagai pujian kosong.

Seorang psikolog di Amerika Serikat bernama Stephen Grosz mengatakan, pujian kepada anak-anak bisa menyakiti kepercayaan diri anak-anak. Selama ini, pujian diperkirakan bisa membantu meningkatkan kepercayaan diri anak, khususnya yang pemalu. Namun studi mengatakan, pujian yang kelewat sering justru bisa berakibat kebalikannya.

Pakar kesehatan mental Stephen Grosz mengklaim, pujian-pujian seperti "Bagus sekali. Kamu hebat" atau "Kamu pintar sekali" atau "Karyamu seperti seniman" bisa membahayakan prestasi mereka di masa depan.

Menurut Grosz, pujian-pujian "kosong" bisa membuat anak-anak merasa tak bahagia karena merasa tidak bisa mencapai ekspektasi yang sebenarnya.

Karena itu, Grosz menyarankan orangtua dan guru untuk membatasi pujian dan menggunakan kalimat yang menekankan pada usaha keras si anak.

Dikutip dari Medical Daily, Grosz mengungkap, pujian kosong bisa dinilai sebagai kritik yang tak matang dipikirkan. Di pikiran anak, pujian kosong merupakan kebalikan atau hal berbeda yang ada di pikiran dan perasaan anak.

"Memberi pujian kepada anak memang seakan bisa meningkatkan kepercayaan diri orangtua atau guru, walau sementara. Namun, bagi si anak, tak ada manfaat yang benar-benar kentara," jelas Grosz.

Studi-studi terdahulu menemukan, anak-anak yang sering mendapat pujian performanya buruk di sekolah. 

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Columbia University, melibatkan 128 murid berusia antara 10-11 tahun menekankan hal ini. Saat penelitian, para murid diminta menyelesaikan beberapa soal Matematika. Setelah mengerjakan tugas-tugas itu, satu grup anak-anak dipuji dengan kalimat seperti "Kamu berhasil mengerjakan tugas dengan baik, kamu cerdas sekali". Sementara kelompok lainnya diberi pujian, "Hasil kerjamu baik. Kamu pasti berusaha bekerja sangat keras."

Setelahnya, para responden ini diminta menjawab soal-soal yang lebih rumit. Hasilnya, anak-anak dari grup pertama --yang dipuji atas kecerdasannya-- memiliki nilai di bawah grup yang dipuji atas upaya kerasnya.

Lebih parahnya, anak-anak dari grup pertama, yang dikatakan cerdas, bahkan terlihat cenderung berbohong bila ditanya hasil nilai keduanya.

Grosz yang juga adalah penulis buku The Examined Life, dengan salah satu bab berjudul How Praise Can Cause Loss of Confidence mengatakan, pujian kosong bisa memberi pesan kepada yang dituju "Saya tak ingin benar-benar terhubung dengan kamu secara personal, saya hanya ingin memuji".

Saat ini makin banyak orang dewasa yang memuji anak-anak karena di masa kecilnya, mereka sering dikritik. Saking tak ingin sama dengan orangtuanya, orang dewasa masa kini pun berupaya keras untuk banyak memberi pujian kepada anak-anak.

Grosz menyarankan orang dewasa untuk mencoba membangkitkan kepercayaan diri anak dengan cara yang tak kentara ketimbang mengumbar pujian. Salah satu caranya, kata Grosz, adalah dengan mendengarkan apa yang ingin disampaikan si anak, minat, dan hal-hal yang menarik perhatian mereka.