/ AB Sabtu, 7 Juli 2018 | 09:22 WIB
Tommy Welly
Pengamat Sepakbola

Prediksi: Rusia 1-2 Kroasia

Rusia tetap sebagai kuda hitam di hadapan Kroasia. Dengan mentalitas nothing is impossible, Rusia dan Kroasia dalam rute untuk menciptakan sejarah. Angin perubahan sedang terjadi. Bukan hanya untuk kedua tim, tetapi juga sepak bola dunia.

Rusia tak pernah diperhitungkan lolos ke perempat final. Namun, kemenangan atas Spanyol lewat adu penalti disambut luar biasa dan berdampak besar. Jika Spanyol yang juara dunia 2010 dan termasuk salah satu kandidat juara Piala Dunia 2018 bisa mereka kalahkan, apalagi yang bisa menghalangi tekad Alexander Golovin dkk untuk terus melaju lebih jauh.

Dengan rasa percaya diri yang makin besar, Sbornaya siap menghadapi Kroasia yang lebih diunggulkan dengan mentalitas to make impossible, possible.

“Kami tahu segalanya menjadi mungkin saat ini. Bahkan sejak awal sebelum turnamen ini dimulai, kami punya keyakinan Rusia akan ke final,” ujar gelandang muda yang calon bintang masa depan Rusia, Alexander Golovin.

Angin perubahan seolah melanda sepak bola Rusia saat ini. Ketika para pemain masih merayakan kemenangan sensasional atas Spanyol di ruang ganti pemain, Stadion Luzhniki, warga Rusia sudah langsung membanjiri Lapangan Merah--Red Square-- Moskwa untuk meluapkan kegembiraan.

Igor Akinfeev yang tampil mengesankan saat adu penalti dengan Spanyol didaulat sebagai pahlawan. Ia disanjung sebagai santo alias orang suci dan menjadi trending topic di media sosial Rusia. Bahkan, pimpinan partai oposisi Alexei Navalny meminta agar Akinfeev diberikan penghargaan tertinggi Rusia, "The Hero of Russia Medal".

“Seluruh negeri sekarang meyakini dan berada dibelakang kami,” ucap Yuri Gazinsky sang pencetak gol pertama Rusia di turnamen ini.

“Orang-orang meragukan kami saat melawan Spanyol tapi kami sudahmembuktikan bahwa mereka bisa percaya pada kemampuan kami,” katanya.

Euforia tidak hanya di Moskwa, tetapi juga melanda hingga kota kecil tambang batu bara, Kaltan, yang berada di pelosok Siberia. Wilayah ini mendadak populer selama Piala Dunia 2018, karena Kaltan adalah kampung halaman dari bintang baru Rusia saat ini, Alexander Golovin. Pelatih sepak bola di Kaltan, Alexander Golubev menyebut Golovin sebagai orang yang berjasa membuat Kaltan tertera dalam peta dunia.

“Sebelumnya jika Anda mengatakan AAnda berasal dari Kaltan, banyak orang yang tidak akan percaya. Tetapi sekarang segalanya berubah. Jika Anda, memiliki kemauan bahkan melalui extra time sekalipun, dari kota kecil di Rusia, dari pelosok terpencil seperti Kaltan, Anda bisa meraih hasil fantastis dalam sepak bola dunia,” ungkap Golubev mengekspresikan kebanggaannya terhadap pencapaian Golovin.

Glasnots dan Perestroika
Sbornaya memang sedang mengalami transformasi opini publik yang luar biasa. Sebelumnya diapandang sebelah mata, kini Sbornaya disanjung begitu rupa. Situasinya seolah Glasnots dan Perestroika dalam konteks sepak bola.

Jika di tahun 1980-an Glasnots dan Perestroika dicetuskan untuk mengatasi berbagai masalah ekonomi dan politik Uni Soviet serta keterbukaan, di sepak bola Glasnots dan Perestroika-nya dalam konteks pembaruan sepak bola Rusia yang naik level dari finalis Piala Dunia 2018 dengan peringkat FIFA terendah menjadi kekuatan baru di sepak bola dunia. Kalaupun sedikit diplesetkan, Glasnots dan Perestroika menjadi Golovin dan Artem Dzyuba untuk menyebut dua nama bintang yang paling bersinar di Sbornaya saat ini.

Kalau pencetus Glasnots dan Perestroika Uni Soviet dahulu adalah Michael Gorbachev, di Sbornaya penggagasnya adalah Stanislav Cherchesov. Pelatih yang sebelumnya hanya dijadikan bahan ejekan dan lelucon karena tak pernah menang dalam tujuh uji coba terakhir menjelang Piala Dunia 2018, kini disanjung begitu rupa. Cherchesov dipuji sebagai pelatih jenius.

Cherchesov juga mungkin satu-satunya orang Rusia yang tidak lama-lama larut dalam euforia kemenangan Rusia. “Satu pekerjaan telah tuntas. Sekarang kami harus segera memikirkan pertandingan berikutnya. Di perempat final, Kroasia akan memberikan tantangan dan kesulitan yang berbeda, jadi kami pun harus melakukan perubahan.”

Cherchesov mengakui seperti halnya Spanyol, Kroasia dianggapnya memiliki keunggulan dalam kualitas skill. Namun, pengalaman mengalahkan La Roja, dengan perencanaan taktikal yang sangat detail--analogi saking ekstremnya direncanakan hingga sampai hitungan millimeter--telah membuktikan pada Sbornaya bahwa taktik yang tepat bisa mengatasi kekurangan Sbornaya sekaligus mengalahkan kelebihan lawan.

Apakah Rusia akan kembali memainkan strategi ultradefensifnya dengan lima bek atau empat bek, seperti melawan Spanyol, semuanya telah ada di kantong Cherchesov. Satu hal yang pasti dan sudah terbukti dengan strategi ultradefensifnya itu, Spanyol memang masih mencapai hitungan 1.000 passing, tetapi hampir tak satu pun passing akurat Spanyol yang memasuki area penalti Rusia.

Kroasia Lebih Favorit
Kroasia sendiri pasti mengantisipasi kemungkinan tersebut. Zlatko Dalic butuh formula baru untuk mengatasi keuletan dan tekad Rusia setelah babak 16 besar. Permainan Kroasia mengatasi Denmark dianggap banyak pengamat di bawah par alias tidak sebagus babak penyisihan grup sebelumnya.

Trio gelandang Kroasia, Milan Badelj, Ivan Rakitic, dan Luka Modric, tetap akan menjadi kunci permainan Kroasia. Jika ketiganya tampil pada top perform-nya sulit bagi Rusia untuk menembus semifinal, terutama jika Luka Modric yang selintas mirip maestro sepak bola Johan Cruyff--hanya dalam versi mungilnya--mampu mengendalikan tempo dan permainan.

“Saya menduga Rusia akan memainkan taktik yang hampir sama ketika berhadapan dengan Spanyol. Rusia adalah tipe lawan yang gaya mainnya tidak kami sukai. Mereka banyak berlari dan memiliki organisasi permainan yang baik,” ungkap Modric.

Meski diperkirakan bakal tidak mudah dan alot bagi Kroasia, analisis objektif berdasarkan kelebihan dan kelemahan teknis masing-masing tim, tampaknya Kroasia lebih berpeluang lolos ke semifinal. Gaya yang sedikit berbeda dari Spanyol dan lebih efektif dalam finishing membuat Kroasia akan sulit dihentikan Rusia.

Namun, apa pun yang terjadi di Sochi, Minggu (8/7) dini hari nanti, perubahan pada sepak bola dunia memang telah terjadi. Keempat semifinalis dipastikan milik Eropa dan lamat-lamat lantunan lagu Wind of Change dari Scorpions seolah menggema di Rusia 2018 ini.

I follow the Moskva/ Down to Gorky Park/ Listening to the wind of change//
Take me/ to the magic of the moment/ on a glory night//
Where the children of tomorrow dream away/ in the wind of change//