/ AB Selasa, 10 Juli 2018 | 07:18 WIB
Tommy Welly
Pengamat Sepakbola

Prediksi: Prancis 1-2 Belgia

Prancis dan Belgia sama-sama tim yang komplet. Prancis bermain sangat efektif dan mematikan. Sebaliknya Belgia makin percaya diri setelah melewati ujian Brasil. Siapa yang lolos ke final adalah tim yang mampu memaksimalkan keuntungan sekecil apa pun di lapangan. Di sinilah faktor KDB akan menentukan.

Empat tahun lalu di Maracana, Rio de Janeiro Brasil, Raphael Varane kalah power saat duel heading dengan Mats Hummels yang mencetak satu-satunya gol kemenangan Jerman atas Prancis, di perempatfinal. Kini Varane telah membayar lunas “kekalahannya” itu dengan gol penting sundulan kepala ke gawang Uruguay, juga di perempat final di Nizhny Novgorod.

Varane memang terlihat lebih matang saat ini. Duetnya bersama Samuel Umtiti sebagai duet El Clasico merupakan salah satu duet bek tengah terbaik di Rusia 2018. Bersama Benjamin Pavard di kanan dan Lucas Hernandez di kiri, kuartet lini pertahanan Prancis, plus Hugo Lloris ini makin solid. Bahkan Luis Suarez tak bisa masuk ke area penalti Les Blues, apalagi mengancam gawang Lloris di babak perempat final.

Kokohnya lini pertahanan Prancis ini terbilang mengejutkan. Back four, Benjamin Pavard-Varane-Umtiti-Hernandez sebenarnya belum pernah dimainkan bersamaan sebelum Piala Dunia 2018. Fakta ini memperlihatkan salah satu kehebatan Didier Deschamps sebagai pelatih. Ia mampu menemukan pasangan pemain yang compatible atau saling melengkapi, bukan saja di lini pertahanan, tetapi tim secara keseluruhan.

Deschamps Defensive
Prancis era Deschamps ini sebenarnya masih dikritik karena dianggap belum mengeluarkan kualitas atau potensi sesungguhnya dari squad yang dimiliki Deschamps. Namun, dengan kesuksesan lolos ke semifinal, untuk sementara kritikan itu tidak terdengar lagi. Artinya secara hasil, Deschamps tak bisa dibantah, karena telah memberikan hal sangat positif.

Beberapa kritikan menganggap Deschamps konservatif dalam hal sistem permainan yang dikembangkan. Ia sangat bergantung pada beberapa kualitas individual pemain, seperti Antoine Griezmann dan Kylian Mbappe. Sejauh ini sembilan gol Prancis hanya dicetak oleh empat pemain, Griezmann, Mbappe, Pavard, dan Varane.

Deschamps juga dianggap berbeda misalnya dengan Vicente del Bosque di 2010 dan Joachim Loew di 2014, yang mampu membangun sistem permainan yang bisa mengoptimalkan kualitas pemain. Bisa jadi ini karena Deschamps lebih mementingkan hasil daripada permainan spektakuler, tetapi kalah.

Bisa jadi pula, mind set Deschamps untuk Prancis di Rusia 2018 ini memang cenderung defensif dan mengandalkan senjata ampuhnya, serangan balik cepat. Contoh jelas adalah bagaimana Deschamps lebih memilih memainkan Blaise Matudi atau Corentin Toliso, dua gelandang tengah di posisi sayap kiri. Padahal di pos sayap kiri, Deschamps memiliki senjata yang sangat agresif, seperti Ousmane Dembele, Thomas Lemar, dan Nabil Fekir. Artinya jelas, Deschamps sangat menekankan pentingnya pertahanan yang solid di Rusia 2018.

N'Golo Kante Unsung Hero
Skenario Deschamps yang cenderung membangun tim yang efektif dan bukan superior ini makin pas dengan peran yang dimainkan gelandang energiknya N'Golo Kante. Dialah mesin permainan Les Blues sesungguhnya. Kante adalah unsung hero bagi Prancis. Dialah yang memudahkan sekaligus membuat Griezmann dan Mbappe makin bersinar.

Kante memang hampir tak terlihat ketika sanjungan dan pujian diarahkan pada Griezmann dan Mbappe. Saat melihat Prancis bermain, memang kita seakan-akan tidak melihat atau menyadari Kante. Namun, saat kita fokus melihat bagaimana Kante bermain, di situlah kita menyadari oleh siapa dan bagaimana permainan Prancis dibangun. Itulah kehebatan dan kontribusi besar Kante bagi Prancis.

Kante juga seorang pemenang. Back to back mempersembahkan gelar juara Liga Primer Inggris untuk Leicester dan Chelsea, tentu bukan hal yang biasa. Dalam hal ini, Kante menyamai pencapaian Eric Cantona berhasil juara bersama dua klub berbeda secara berurutan.

Maka tidak berlebihan, salah satu rahasia keberhasilan mengalahkan Prancis bukan saja mewaspadai Griezmann dan Mbappe, tetapi juga bagaimana caranya berhasil menetralisasi peran Kante. Di sinilah akan terjadi duel head to head yang menentukan. Sangat terbuka kemungkinan Belgia menugaskan Kevin De Bruyne (KDB) untuk meminimalisasi peran Kante. Sebaliknya Prancis pun diprediksi akan menugaskan Kante sebagai penjaga KDB. Terbukti di babak 16 besar, Kante berhasil membuat Messi tak berkutik.

Inilah yang dimaksud sebagai faktor KDB, Kante-De Bruyne dalam pertarungan semifinal di St Petersburg, Rabu (11/7) dini hari WIB. Dari sosok kedua pemain inilah--Kante-De Bruyne alias KDB--situasi permainan akan ditentukan. Kedua pelatih Deschamps dan Roberto Martinez pasti sangat mengandalkan dan berharap besar pada kontribusi kecerdikan kedua pemain kunci ini.

KDB False Nine
Menetralisasi Kante bukan perkara mudah. Eden Hazard rekan se-klubnya di Chelsea menjuluki Kante sebagai "si Tikus" (The Rat). Kante memang kecil, tetapi seperti tikus, ia seolah menggerogoti permainan lawan.

Sebaliknya mematikan Kevin De Bruyne juga bukan perkara gampang. Sedikit saja KDB mendapatkan ruang, maka ancaman berbahaya lewat umpan-umpan mematikan ataupun tembakan terarahnya bakal membahayakan gawang Lloris. Bagaimanapun harus diakui, KDB adalah salah satu gelandang kreatif terbaik dunia saat ini. Ia pemain nomor 10. KDB kreatif sekaligus goalscorer. Skill-nya sungguh aduhai, sempurna.

Selain itu, mematikan Belgia tidak sesederhana Prancis melemahkan Argentina dan Uruguay. Belgia memiliki banyak pemain berkualitas di setiap posisi dan lini permainan. Ini berbeda dengan tipe permainan Argentina dan Uruguay yang selalu bertumpu mengandalkan kehebatan figur mega bintangnya, Lionel Messi dan Luis Suarez.

Belgia saat ini memiliki back bone yang solid dalam diri Thibaut Courtois, Vincent Kompany, Kevin De Bruyne, Eden Hazard, dan Romelu Lukaku. Selain individu bintang, Roberto Martinez juga menerapkan sistem permainan dengan taktik yang fleksibel.

Dua ujian mengalahkan Jepang di 16 besar dan Brasil di perempat final, memperlihatkan kemampuan Belgia keluar dari tekanan dengan perubahan atau fleksibilitas strateginya. Dua pemain pengganti saat mengalahkan Jepang, Marouane Fellaini dan Naser Chadli, menjadi penentu kemenangan Belgia dengan gol-golnya. Sementara perubahan strategi memainkan Fellaini sejak awal dan Kevin De Bruyne sebagai false nine terbukti ampuh menyingkirkan Brasil.

“Prancis memang tim yang komplet. Namun, jika Brasil sudah bisa kami kalahkan, siapa lagi yang harus kami takutkan,” ucap Chadli. Apalagi, dengan sosok Thierry Henry di bench, Belgia bakal makin percaya diri.