/ AB Sabtu, 14 Juli 2018 | 07:25 WIB
Tommy Welly
Pengamat Sepakbola

Prediksi : Belgia 2-1 Inggris

Harry Kane bakal sulit dikejar dalam perburuan sepatu emas. Namun, Belgia yang akan memenangkan peringkat ketiga di Rusia 2018 ini. Faktor Thomas Meunier adalah pembedanya. "Meunier Effect", begitulah Belgia menyebutnya sebagai faktor penting dalam permainan Belgia versi Roberto Martinez ini.

Ini pertandingan yang tidak diinginkan pesepakbola mana pun. Siapa yang mau mengingat negara mana yang menempati peringkat ketiga di event Piala Dunia. Sebagai event yang paling ultimate, Piala Dunia hanya mengingat sang pemenang. Mahkota hanya untuk sang juara.

“Sejujurnya, ini pertandingan yang tidak diinginkan tim mana pun. Apalagi dengan sisa kekecewaan yang masih membekas di hati dan kepala squad Three Lions. Namun, kami memastikan akan bermain dengan penuh harga diri, tak ada yang perlu diragukan soal itu,” ujar pelatih Inggris, Gareth Southgate.

Alasan lainnya, Inggris dan Gareth Southgate bisa memanfaatkan pertandingan play-off peringkat ketiga ini untuk mendorong dan memastikan Harry Kane menjadi pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2018. Saat ini Kane telah mencetak enam gol. Pesaingnya adalah Romelu Lukaku (Belgia) dengan empat gol. Satu gol tambahan lagi saja akan mengokohkan peluang Kane menyabet penghargaan sepatu emas, sekaligus menyamai prestasi Gary Lineker di Meksiko 1986 yang menjadi pencetak gol terbanyak dengan enam gol.

Sementara itu, Belgia pun bersikap serupa. Tampil impresif di Rusia 2018, Kevin de Bruyne dkk jelas sangat terpukul. Sanjungan sebagai generasi paling berbakat Belgia belum diimbangi dengan torehan gelar juara dunia. Namun, sedikit hadiah hiburan masih bisa diperjuangkan Belgia jika berakhir di peringkat ketiga sebagai prestasi terbaik Belgia di Piala Dunia melampaui Enzo Schifo dkk yang menempati peringkat empat di Meksiko 1986.

“Kami ingin berakhir di posisi tertinggi yang bisa diraih karena para pemain yang kami miliki memang sangat layak untuk mengakhiri Piala Dunia ini di posisi yang paling baik,” ucap Roberto Martinez yang kontraknya diperpanjang hingga usai Euro 2020.

“Menempati peringkat ketiga bukanlah hal yang sering terjadi untuk kami. Jadi, kami harus berpikiran bahwa ini pertandingan yang penting bagi kami." katanya.

Maka, recovery mental dan psikologis pemain menjadi yang paling utama menyongsong penentuan peringkat ketiga/keempat di St Petersburg, Sabtu (14/7) malam WIB. Siapa yang paling cepat melupakan kegagalan semifinal dan berpaling dari kekecewaan, itulah yang berpeluang tampil lebih baik dan lepas.

Mirip Belanda
Belgia memang gagal memenangi gelar juara dunia pertamanya. Namun, penampilan impresif Kevin de Bruyne dkk telah memikat hati pencinta bola di seluruh dunia. Bukan hanya suporter Belgia, tetapi pendukung netral pun menyukai permainan Belgia kali ini.

Coming from behind setelah tertinggal 0-2 dan yang disempurnakan lewat gol di detik-detik terakhir saat melawan Jepang di 16 besar adalah salah satu momen pertandingan terbaik di Rusia 2018. Gol kemenangan Belgia melalui proses serangan balik cepat hanya sembilan detik lewat empat sentuhan: Thibault Courtois-Kevin de Bruyne-Thomas Meunier-Naser Chadli. Sungguh momen yang spektakuler sekaligus ikonik.

Kecerdikan Belgia berlanjut di perempat final. Menghadapi Brasil--tim favorit juara di Rusia 2018 ini--, Belgia tampil percaya diri. Taktik yang cerdas dengan memerankan Kevin de Bruyne sebagai false nine dan serangan balik cepat, membuat Brasil takluk.

Maka, wajar jika kemudian Belgia dan semua pendukungnya sangat terpukul saat Kevin de Bruyne dkk gagal melaju ke final. Sedih, marah, kecewa dan frustrasi bercampur menjadi satu.

“Saya lebih memilih kalah bersama Belgia daripada harus menang dengan cara Prancis bermain,” sindir Eden Hazard.

Courtois yang tampil mengesankan sepanjang Rusia 2018 bahkan tak bisa menutupi emosi dan kemarahannya. “Prancis hanya memiliki satu kesempatan, sundulan kepala lewat sepak pojok. Tidak ada yang mereka lakukan selain bertahan,” tutur Courtois kepada stasiun TV Belgia, Sporza.

“Bagiku lebih baik kalah dari Brasil di perempat final, setidaknya mereka memperlihatkan sebagai tim yang ingin bermain bola. Prancis tak lebih dari anti-football team. Striker mereka bermain 30 meter di depan gawangnya sendiri,” sindir Courtois kepada rekan setimnya di Chelsea, Olivier Giroud.

Roberto Martinez pun mengungkapkan kekecewaannya dengan menyatakan,"Perbedaan kalah dan menang hanya ditentukan oleh satu situasi bola mati."

Situasi ini seolah memosisikan Belgia seperti negeri tetangganya Belanda. Belgia mengalami situasi sebagai tim pecundang yang paling banyak mendapatkan simpati. Dan jika membuka lembaran sejarah Piala Dunia, the most beloved losers adalah Belanda pada Piala Dunia 1974. Clockwork Orange kalah dari Jerman Barat di partai final, tetapi Johan Cruyff dkk ketika itu mewariskan total football untuk sepak bola dunia.

Belgia memang tidak persis mewariskan identitas sepak bola baru seperti halnya total football, tetapi gaya main yang free flowing dan serangan balik cepat mematikan Belgia telah meninggalkan kesan yang mendalam di Rusia 2018 ini. Kevin de Bruyne mmang bukan Cruyff, tetapi bagi Belgia, dia adalah harta karun sepak bola.

Meunier Adalah Kunci
Jadi satu-satunya cara Belgia tetap diingat dengan wangi harum semerbak adalah mengakhiri Piala Dunia 2018 dengan kemenangan atas Inggris, sekaligus menorehkan prestasi terbaik Belgia di Piala Dunia.

Belgia punya modal kepercayaan diri karena menang 1-0 atas Inggris di penyisihan grup G, berkat gol Adnan Januzaj. Three Lions juga pasti akan ngotot ingin lebih baik dari generasi 1990 yang berakhir di peringkat empat setelah kalah 1-2 dari tuan rumah Italia di Bari. Namun, Belgia berpeluang bangkit lagi karena bisa memainkan semua pemain terbaiknya, termasuk Thomas Meunier.

Kekalahan Belgia di semifinal, bisa jadi karena Thomas Meunier absen. Dari 23 pemain di squad Belgia, Meunier adalah satu-satunya spesialis full/wing back. Ia seperti puzzle yang hilang di tim Belgia pada semifinal melawan Prancis. Hanya kehilangan satu pemain di semifinal, tetapi satu pemain ini memang pemain yang penting dan berpengaruh pada sistem bermain Belgia. Akibatnya, tanpa Meunier, Belgia menyodorkan lubang kelemahan untuk dieksploitasi lawan.

Dengan kata lain, Meunier adalah kunci. Belgia dalam masalah saat Meunier absen tak bisa bermain. Tanpa Meunier ada kelemahan dalam formasi yang ditampilkan Belgia. Namun, Meunier juga sekaligus pemain penting yang sangat berpengaruh pada permainan The Red Devils. Faktor Meunier inilah yang menjadi pembeda sekaligus salah satu alasan Belgia diprediksi bakal mengakhiri Rusia 2018 dengan kemenangan.