/ AB Minggu, 15 Juli 2018 | 09:07 WIB
Tommy Welly
Pengamat Sepakbola

Prediksi: Prancis 1-2 Kroasia

Kylian Mbappe sangat fenomenal. Tak ada lawan bagi anak muda ini untuk merebut penghargaan sebagai "Pemain Muda Terbaik" Piala Dunia 2018. Bola Emas masih diperebutkan Luka Modric dan Antoine Griezmann. Namun, yang paling dinantikan, akankah juara baru lahir di tanah Rusia ini?

Prancis menjadi super favorit di Stadion Luzhniki Moskow, Minggu (15/7) malam ini. Semua ukuran sepak bola cenderung berpihak pada Prancis. Berbeda dengan dua tahun lalu, Les Blues kali ini telah menjelma sebagai tim yang kolektif daripada sekadar kumpulan individu pemain top. Lewat racikan dan taktik efektif Didier Deschamps, Prancis menjadi tim yang sangat solid. Ungkapan “The World Cup does not respect talent, only teams!”, memang diucapkan Roberto Martinez, tetapi squad Didier Deschamps-lah yang sanggup menerjemahkannya dengan sempurna.

Harus diakui sulit mengalahkan Prancis saat ini. Namun, bukan berarti tak bisa dikalahkan. Argentina, Uruguay, dan Belgia gagal melewati Les Blues. Belgia yang sangat impresif pun berhasil diakali Deschamps dengan taktik compact defend dan serangan baliknya. Plus eksekusi bola mati yang mematikan.

Dari statistik selama Rusia 2018, Prancis tak pernah kemasukan gol lebih dahulu. Antoine Griezmann dkk selalu yang lebih dahulu mencetak gol. Ini mengindikasikan lini pertahanan Prancis yang solid. Hugo Lloris memberikan ketenangan di bawah mistar gawang. Sementara kuartet bek muda mereka: Benjamin Pavard, Raphael Varane, Samuel Umtiti, dan Lucas Hernandez, bukan hanya solid bertahan tapi juga mampu mencetak gol. Bahkan Tiga dari lima pencetak gol bagi Les Blues saat ini adalah tiga bek mereka, yakni Pavard, Varane dan Umtiti.

N'Golo Kante
Namun, mengapa Prancis begitu solid? Jawabannya adalah N'Golo Kante. Dia pemain paling penting bagi Prancis. Seperti halnya Zinedine Zidane butuh Claude Makelele, seperti itulah arti Kante bagi Griezmann dan Kylian Mbappe. Sosok Kante memang tidak seglamour Griezmann, Mbappe, Olivier Giroud, atau Paul Pogba yang eksentrik. Namun, kontribusinya untuk Les Blues di Rusia 2018 ini sungguh istimewa. Kante tercatat 48 kali berhasil merebut bola kembali (won back possession). Ini statistik tertinggi dari seluruh pemain di Rusia 2018.

Kante adalah perisai yang membuat lini pertahanan Prancis tidak mudah ditembus. Ia juga pemain kunci bagi transisi Prancis. Transisi yang merupakan magic moment dalam sepak bola modern saat ini, mulus dijalankan Les Blues karena peran Kante. Ia juga bukan tipe gelandang bertahan yang asal tabrak. Kante bahkan jarang melakukan pelanggaran. Ini yang membuat pertahanan Prancis sedikit mendapat ancaman dari bola mati tendangan bebas.

Kante memang tidak akan mendapatkan Bola Emas apalagi FIFA Ballon d’Or untuk penampilan hebatnya sebagai gelandang paling mutakhir di era milenial ini. Namun, di setiap trofi yang dimenangkan timnya, akan selalu ada namanya yang tertulis dengan kerja keras, keringat, dan tackling-nya

Jadi, di luar kecerdikan Griezmann, kecepatan Mbappe dan Giroud sebagai jimat Deschamps, key player sesungguhnya Prancis adalah N'Golo Kante. Jadi untuk mengalahkan Prancis yang saat ini sedang sulit dikalahkan, resepnya adalah meredam Kante. Meminimalisasi Kante. Menetralkan Kante. Mudah mengucapkannya, tapi sulit untuk diterapkan di lapangan.

Inilah yang harus dicari solusinya oleh Zlatko Dalic. Karena jika Dalic tidak menemukan anti formula untuk Kante, ini akan berpengaruh pada kinerja Luka Modric sebagai kunci permainan Kroasia. Duel Kante vs Modric bagaimanapun akan menjadi sorotan di Luzhniki, malam ini. Peran dan kualitas kedua pemain ini sangat memengaruhi performa tim.

Vatreni untuk Negeri
Jika Prancis berstatus super favorit, Kroasia tetap menjadi kuda yang paling hitam. Slogan "Mala Zemlja, Veliki Snovi - Small  Country, Big Dreams" yang tertera di bus tim seolah menginspirasi perjalanan Kroasia di Rusia 2018 ini.
Negara dengan populasi tak lebih dari 4,5 juta penduduk ini, tidak terlalu diperhitungkan saat memasuki Rusia 2018. Kroasia memang memiliki gelandang kelas dunia Luka Modric dan Ivan Rakitic, tetapi Vatreni baru ditangani Zlako Dalic hanya beberapa hari menjelang play-off kualifikasi, dan sukses mengalahkan Yunani.

Dibandingkan Deschamps, Dalic jelas bukan siapa-siapa. Deschamps sudah menangani Les Blues sejak 2012, sementara Dalic baru sembilan bulan bersama Vatreni. Dalic juga hanya bagian dari suporter Kroasia ketika 20 tahun lalu menyemangati Davor Suker dkk di Piala Dunia 1998. Sebaliknya Deschamps adalah kapten tim juara Prancis 1998 dan kini selangkah lagi menyamai reputasi Mario Zagalo dan Franz Beckenbauer sebagai orang ketiga yang mengangkat trofi Piala Dunia sebagai pemain dan manajer.

Namun, fakta dan statistik itu tidak akan membatasi Kroasia, Modric maupun Dalic untuk mengejar dan menciptakan sejarah bagi Kroasia. Prancis memang favorit tapi Kroasia pun sudah membuktikan mentalitas pemenangnya. Vatreni melalui jalan dan tantangan yang berat untuk mencapai Luzhniki, Minggu malam ini. Tiga kali extra time dan dua di antara dengan adu tendangan penalti berhasil dilalui Kroasia. Jadi sehebat apa pun Prancis saat ini, itu tidak akan membuat nyali Kroasia ciut.

Sebaliknya motivasi dan energi Luka Modric dkk semakin besar dan berlipat ganda. Squad Zlatko Dalic ini ingin membahagiakan negerinya. Berbeda dengan kesuksesan dil apangan hijau Rusia 2018, kondisi dalam negeri Kroasia tidak kondusif. Dalam beberapa tahun terakhir ini, situasi politik sedang memanas. Akibatnya negeri ini banyak mengalami kerusuhan, kekerasan terhadap imigran atau pendatang dan ketidakstabilan secara ekonomi.

Dalam kondisi seperti ini, pencapaian Luka Modric dkk menjadi oksigen yang menyegarkan rakyat Kroasia. Sejenak mereka menemukan pelarian dari kesulitan hidup dan merasa bangga sebagai bangsa Kroasia. Di sinilah sepak bola kembali memberikan pengharapan dan Kroasia menginginkan Modric dkk membawa pulang mahkota juara ke Zagreb untuk kebanggaan Kroasia.

Luka Modric dkk memang sudah membanggakan negerinya. Sebagai pesepak bola mereka tetap sosok manusia juga yang sangat terpengaruh dengan kondisi negerinya. Mereka bersimpati dengan keluarga, kerabat dan teman-teman mereka di Kroasia. Dan mereka telah menunjukkan perhatiannya dengan fokus dan tampil habis-habisan merebut tiket ke final. Inilah karakter sejati yang diperlihatkan Luka Modric dkk.

Bahkan penampilan Kroasia sejauh ini telah merebut hati pencinta sepak bola di seluruh dunia. Sejarah baru bagi sepak bola Kroasia pun telah tercipta. Era Modric 2018 telah melampaui prestasi Davor Suker 1998. Dan sejarah baru Kroasia ini akan menjadi sempurna jika mereka mampu membawa pulang trofi FIFA World Cup sebagai negara kesembilan yang menjadi juara Piala Dunia.

Akankah sejarah baru tercipta di Rusia 2018? Ataukah Moskow berakhir menjadi ulangan final 20 tahun lalu?