KPU: Pemilu 2014 Episode Terakhir Transisi Demokrasi

KPU: Pemilu 2014 Episode Terakhir Transisi Demokrasi
Ketua KPU Husni Kamil Manik (tengah) didampingi para anggota KPU (dari kiri) Sigit Pamungkas, Juri Ardiantoro, Hadar Nafis Gumay, Ferry Kurnia Rizkiyansyah, Ida Budhiati dan Arief Budiman memimpin jalannya rapat pleno terbuka di Kantor KPU, Jakarta, Senin (4/11). KPU memutuskan tetap memasukkan 10,4 juta nama yang bermasalah ke dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) sehingga DPT untuk Pemilu 2014 sebanyak 186 juta nama. ( Foto: AFP / Andika Wahyu )
A-25 / YUD Selasa, 4 Februari 2014 | 23:18 WIB

Jakarta - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Husni Kamil Manik mengatakan dalam konsolidasi nasional penyelenggara pemilu yang dilaksanakan 4 hingga 6 Februari 2013, KPU telah menekankan tekad menjadikan pemilu 2014 jadi pemilu berkualitas. Diharapkan, Pemilu 2014 jadi episode terakhir transisi demokrasi di Indonesia.

"Pemilu 2014 diharapkan jadi episode terakhir transisi demokrasi di Indonesia. Setelah 2014 kita harus masuki demokrasi yang modern, menghadirkan kesejahteraan, keadilan, bangsa dan berperan aktif dalam tata kelola dunia," ujarnya dalam sambutan pembukaan konsolidasi nasional di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Selatan, Selasa (4/2).

Pada kesempatan itu, Husni juga menekankan bahwa, menghadirkan pemilu yang jujur dan adil sesuai dengan harapan rakyat adalah tugas utama penyelenggara pemilu. Oleh karenanya, tegas Husni diharapkan pennyelenggara pemilu tak menggadaikan kepercayaan dan amanah tersebut dengan kepentingan sesaat dan bahkan individual.

"Saya mengingatkan penyelenggaraan pemilu ini tidak hanya akan kita pertanggungjawabkan kepada rakyat dan generasi ini tapi juga kepada generasi yang akan datang. Penyelenggaraan pemilu 2014 akan jadi pembuktian nasionalisme kita," paparnya.

Upaya mewujudkan pemilu jurdil, papar Husni, bukan sekedar menjaga otensitas suara rakyat tetapi menjadikan Indonesia menjadi rujukan dunia dalam praktek demokrasi yang bermartabat.

"Disinilah pentingnya konsolidasi nasional untuk dua hari ke depan. Acara ini bukan sekedar meningkatkan profesionalitas teknis penyelenggara pemilu, tetapi juga menyegarkan dan menegakan pemilu kita dalam melaksanakan demokrasi. Kita sedang memikul sejarah modern, dan berdemokrasi secara modern, kita sedang mencoba mengakhiri pancaroba demokrasi menuju tata kelola demokrasi yang terkonsolidasi," beber Husni.

Lebih lanjut Husni mengatakan bahwa sukses penyelenggaraan pemilu bukan hanya ditentukan KPU, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) dan peserta pemilu namun juga partisipasi masyarakat sebagai pemilih.

Oleh karenanya, Husni mengajak, dimulai dari penyelenggara pemilu, menggelorakan tekad profesionalitas, independensi dan integritas menjadi nilai dasar yang senantiasa terpatri ketika melaksanakan tugas dan tanggungjawab.

"Kita memililki imajinasi besar menjadikan pemilu 2014 demokrasi yang bermartabat, dan ini bisa sirna kalau kita tak memiliki komitmen moralitas dan integritas yang kuat. Ikhtiar kita harus dibarengi tawakal dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tetap berkoridor dalam UU dan menjadi pemilu tersukses dalam sejarah RI," imbuhnya.

Sekretaris Jenderal KPU, Arif Rahman Hakim menambahkan, tujuan utama KPU melakukan konsolidasi nasional ini tak lain untuk melihat kesiapan KPU sebagai penyelenggara pemilu dalam menyiapkan pemilu yang berkualitas.

"Besok kami akan bahas permasalahan-permasalahan dan solusi-solusi yang kita butuhkan dalam pelaksanaan pemilu 2014. Untuk diketahui, yang hadir hari ini adalah 3300 patirot KPU dari 33 KPU Provinsi, dan 497 KPU Kabupaten/kota," katanya.

Suara Pembaruan A-25

Sumber: Suara Pembaruan