Presiden Mendatang Harus Mampu Jadi Juru Damai di Asean

Presiden Mendatang Harus Mampu Jadi Juru Damai di Asean
Pendiri Institute Kepresidenan Indonesia Drs Christianto Wibisono saat memberikan paparan pada acara peluncuran Anatomi Kepresidenan RI 1-7 di Jakarta, Jumat (5/7). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Hotman Siregar Kamis, 12 Juni 2014 | 20:02 WIB

Jakarta - Pengamat Politik Internasional Christianto Wibisono mengatakan, pekerjaan rumah terbesar presiden terpilih pada 9 Juli mendatang adalah masalah perdamaian di Asia dan Asean. Sebab, tidak mungkin Indonesia bisa menjadi pemimpin di Asean bila di dalam negeri sendiri tidak ada kedamaian.

"Indonesia harus jadi juru damai di Asean, Asia dan Asia Timur. Kalau kita tidak bisa damai bagaimana mau mendamaikan Asean," ujar Cristianto Wibisono dalam Talk Show "Memprediksi Presiden Terpilih" Pilihan Presiden dan Akibatnya bagi Ekonomi dan Politik Indonesia yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni PPM (IKA-PPM) di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (12/6) sore.

Turut hadir dalam acara itu adalah peneliti LIPI Syamsuddin Haris dan Tim Pemenenangan Prabowo-Hatta Bara Hasibuan. Menurut Christianto, Indonesia harus bisa jadi penyeimbang dalam percaturan politik negera-negara Asean dan dunia internasional.

Saat ini, sambung dia, sekitar 100 juta penduduk Indonesia berada dibawah garis kemiskinan. Untuk itu, presiden mendatang harus mampu mengurangi angka kemiskinan agar bisa berkiprah di dunia internasional.

"Golongan menengah keatas sudah bisa dilepas. Yang jadi masalah menengah ke bawah. Ke depan, bagaimana seorang presiden mampu menarik dana dari luar dengan jumlah besar," katanya.

Dia mengungkapkan, sekitar Rp 2.000 triliun dana pengusaha Indonesia di parkir di berbagai negara. Presiden harus mampu meyakinkan pengusaha tersebut agar dana itu bisa ditarik kembali ke Indonesia.

Sumber: Suara Pembaruan