Peneliti CSIS: SBY Paling Menikmati Pemilu Langsung

Peneliti CSIS: SBY Paling Menikmati Pemilu Langsung
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ( Foto: Abror Rizki )
Robertus Wardi Kamis, 11 September 2014 | 00:10 WIB

Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai paling menikmati dan merasakan manfaatnya pelaksanaan Pemilu langsung, termasuk Pilkada langsung. Tanpa penyelenggaraan pemilu langsung, SBY tidak mungkin bisa menjadi presiden pada periode pertama 2004 lalu. Pasalnya suara Partai Demokrat yang dimiliki saat itu hanya tujuh persen.

"SBY itu mungkin lupa bahwa SBY adalah orang pertama yang dapat manfaat dari pemilihan langsung. Kalau 2004 dipilih MPR maka SBY enggak akan jadi presiden karena suara partainya cuma tujuh persen," kata peneliti dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J Vermonte saat menemui Ketua KPU Husni K Maink di kantor KPU, Jakarta, Rabu (10/9).

Ia menjelaskan Presiden SBY masih memiliki kekuasaan besar untuk menjaga demokrasi Indonesia. Salah satunya dengan menolak pengesahan Rancangan Undang-Undang Pilkada, di mana mekanisme Pilkada dilakukan masyarakat secara tidak langsung atau memilih lewat DPRD.

"Kuncinya di SBY dan pemerintah, mengembalikan semangat demokrasi. Masih ada dua bulan untuk mewariskan warisan demokrasi. Indonesia dipuji sebagai demokrasinya bebas di Asia Tenggara. Kalau pemilihan kepala daerah jadi dikembalikan ke DPRD, SBY runtuhkan legacy yang ia bangun," kata Philips.

Ia mengkritisi partai-partai politik yang mendukung pemilihan tak langsung yang berpendapat penyelenggara pemilu kurang becus atau dapat terpengaruh politik uang. Menurutnya, hal itu disebabkan pula oleh kandidat partai politik yang haus kekuasaan.

"Mereka lupa yang jadi masalah itu parpol. Siapa yang beli dan ubah suara? Ya itu mereka. Bahwa parpol itu masalah penyelenggaraan pemilu," tegasnya. 

Sumber: Suara Pembaruan