Mendagri: Sistem Pemilu Tertutup dan Terbuka Sama Baiknya

Mendagri: Sistem Pemilu Tertutup dan Terbuka Sama Baiknya
Tjahjo Kumolo. ( Foto: Antara )
Carlos KY Paath / PCN Kamis, 21 Juli 2016 | 20:57 WIB

Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menilai, sistem pemilu proporsional terbuka dan tertutup memiliki sisi positif. Syaratnya, partai politik (parpol) dapat merekrut calon anggota legislatif (caleg) secara transparan.

"Semua usulan misalnya proporsional tertutup ada baiknya, terbuka ada baiknya. Kedaulatan rakyat dan Parpol terjaga. Berarti kan selektiflah, rekrutmen mencari anggota DPR yang baik kan dari partai," kata Tjahjo di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri), Jakarta, Kamis (21/7).

Disinggung mengenai apabila sistem tertutup diterapkan, kewenangan Parpol lebih dominan menentukan caleg, dia tak berpandangan demikian. "Kita kembalikan ke Parpol rekrutmennya. Harus ada psikotes, harus tahu rekam jejak. Jangan mentang-mentang punya duit langsung (maju caleg) DPR, kan repot," ucapnya.

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat (PD) Hinca IP Pandjaitan mengatakan, partainya belum memutuskan untuk mendukung salah satu sistem pemilu. Namun, dia menyatakan, partainya mengkaji kemungkinan diterapkannya sistem campuran. "Ada jalan tengah. Misalnya caleg nomor urut 1 dan 2 yang dipakai sistem tertutup, lalu 3 ke bawah terbuka," kata Hinca.

Sekadar diketahui, dalam sistem tertutup, pemilih hanya akan memilih tanda gambar parpol, tanpa daftar caleg. Sedangkan, sistem terbuka atau yang dikenal dengan sistem suara terbanyak, tanda gambar Parpol serta nama caleg tercantum di kertas suara.

"Ketika kita mau pilih mana sistemnya, kita harus lihat pengalaman selama ini. Sejak 2009 kita terapkan sistem terbuka, banyak pelajaran dipetik. Muncul politisi DPR yang wajah-wajah baru menghiasi peta politik di DPR yang belum terlalu lama di partai. Mereka tokoh populer artis, tapi ada jarak dengan Parpol," kata Hinca.

Oleh karena itulah, menurutnya, hal terpenting saat ini yakni menjadikan demorkasi di Tanah Air semakin matang. "Kita harus cari jalan keluarnya. Bagaimana agar anggota dewan itu matang secara politik dan merepresentasikan wajah partai. Jadi jangan terjebak pada sistem mana yang dipilih," ujarnya.

Sumber: Suara Pembaruan