Kemdagri Dalami Kemungkinan Adanya Provokator di Balik Kerusuhan Tanjungbalai

Kemdagri Dalami Kemungkinan Adanya Provokator di Balik Kerusuhan Tanjungbalai
Kondisi salah satu wihara di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, pascakerusuhan. ( Foto: Antara )
Carlos KY Paath / FMB Minggu, 31 Juli 2016 | 20:02 WIB

Jakarta - Jajaran Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Asahan, Sumatera Utara (Sumut) sudah diperintahkan agar berkoordinasi dengan aparat keamanan dalam rangka mengantisipasi kemungkinan adanya pembakaran dan pengerusakan di tempat lain.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri), Soedarmo, Minggu (31/7).

"Kesbangpol Asahan juga perlu koordinasi dengan Forkompimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) untuk melakukan pendalaman terhadap provokator yang menjadikan masyarakat anarkis," kata Soedarmo.

Menurutnya, kerusuhan di Tanjungbalai, Asahan kemungkinan bisa terjadi bukan hanya karena faktor salah paham semata. "Makanya perlu dicari akar permasalahan yang sebenarnya agar penanganannya tuntas sehingga kasus ini tidak terjadi lagi," tegasnya.

Dia berharap masyarakat agar mewaspadai adanya provokator. "Makanya perlu pendalaman untuk mencari siapa mastermind (penggerak) dalam kasus ini," ucapnya.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta masyarakat tidak menyebar isu yang meresahkan di jejaring media sosial. "Kepada netizen, tolong jangan sebarkan isu negatif yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kasihan masyarakat dan rakyat kalau terprovokasi," kata Tito saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, seusai mengunjungi lokasi kerusuhan di Tanjungbalai, Minggu (31/7)

Menurutnya, situasi di Tanjungbalai telah kondusif setelah digelarnya pertemuan berbagai elemen masyarakat serta tokoh agama pada Sabtu (30/7). Dia mengajak masyarakat Sumut lebih khusus Karo dan Asahan agar tetap menjaga kekompakan. "Toleransi umat beragama antar warga yang selama ini sudah sangat bagus. Salah satu barometer kerukunan umat beragama ada di Sumut," ujarnya.

Sumber: Suara Pembaruan