Pemerintahan Diramalkan Bakal Mulus Usai Pertemuan Jokowi-SBY

Pemerintahan Diramalkan Bakal Mulus Usai Pertemuan Jokowi-SBY
Presiden RI Joko Widodo (kiri), menjamu Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono di beranda belakang Istana Merdeka, Jakarta, 9 Maret 2017 (Foto: BeritaSatu Photo/Joanito De Saojoao)
/ YUD Kamis, 9 Maret 2017 | 16:57 WIB

Jakarta - Pengamat politik dari Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago menilai pemerintahan akan berjalan mulus setelah pertemuan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (9/3).

"Hampir mulus dan tidak ada gangguan ke depan bagi pemerintahan Jokowi pasca-pertemuan tersebut. Kita tahu selama ini yang seringkali 'mengganggu' atau 'merecoki' pemerintahan rezim Presiden Jokowi salah satunya adalah Partai Demokrat," kata Pangi di Jakarta, Kamis.

Dia menekankan selama ini oposisi sesungguhnya dari Pemerintahan Jokowi adalah Partai Demokrat dan PKS, bukan Partai Gerindra yang dipimpin Prabowo Subianto.

Pangi memandang makna yang mungkin muncul di benak publik atas pertemuan antara SBY dengan Jokowi mungkin saja beragam.

Pertama, publik mungkin menilai pertemuan itu akan menguntungkan Presiden Jokowi, sebab selama ini Partai Demokrat adalah partai yang kerap "mengganggu" pemerintah.

"Kini Demokrat akan berbeda setelah SBY bertemu Presiden Jokowi. Namun seperti lazimnya sebuah pertemuan politik, akan selalu berbicara apa dan siapa mendapat apa serta bagaimana," kata Pangi.

Kedua, publik bisa juga menilai bahwa pernyataan mantan Ketua KPK Antasari Azhar, yang menyebut SBY mengkriminalisasi kasusnya, adalah hal yang membuat SBY tersandera sehingga bertemu Presiden Jokowi.

Ketiga, bisa jadi dalam pertemuan tersebut ada kesepakatan politik besar untuk mengamankan kasus SBY sepanjang Demokrat tidak "merecoki" dan "mengganggu" pemerintahan.

Keempat, SBY ingin membawa Demokrat masuk ke lingkaran partai pemerintah. Meskipun SBY selalu mengatakan bahwa Partai Demokrat berada di luar pemerintahan.

"SBY mungkin memberi sinyal ingin mengamankan posisi Partai Demokrat. Terutama setelah kalahnya putra mahkota SBY yaitu Agus Yudhoyono dalam Pilkada DKI Jakarta putaran pertama," kata Pangi.

Dari berbagai kemungkinan itu Pangi menilai SBY memiliki misi untuk mengamankan posisinya yang kian terdesak sehingga bertemu Presiden Jokowi.



Sumber: ANTARA