Mendagri Geram Kantornya Diserang

Mendagri Geram Kantornya Diserang
Kantor Kementerian Dalam Negeri (kemdagri) diserang sekelompok orang yang mengatasnamakan pendukung calon Bupati Tolikara, Papua, John Tabo dan Barnabas Weya, 11 Oktober 2017. ( Foto: Istimewa )
Carlos KY Paath / FMB Kamis, 12 Oktober 2017 | 12:46 WIB

Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo geram atas peristiwa penyerangan Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) oleh sekelompok oknum warga Tolikara. Tjahjo menduga ada pihak tertentu yang menggerakkan massa tersebut.

“Harga diri dan kehormatan saya khususnya, terganggu dengan ulah orang-orang tersebut yang mengatasnamakan warga Tolikara pendukung calon bupati yang kalah pilkada (pemilihan kepala daerah),” kata Tjahjo, Kamis (12/10).

Dia menuturkan, dirinya pernah mengunjungi Tolikara. “Saya pernah ke Tolikara, orangnya baik-baik. Tidak seperti mereka yang merusak kantor,” tuturnya.

Selama beberapa kali perwakilan massa sempat diterima langsung di ruang kerja mendagri. Selain itu, pejabat eselon I dan II terkait juga telah beraudiensi. “Masih saja mereka berbuat brutal. Kita Kemdagri sudah berbaik diri selama ini, balasannya mereka melukai saudara-saudara kami pegawai Kemdagri,” tukasnya.

Tjahjo mengaku wajahnya seperti 'tertampar', karena insiden perusakan Kantor Kemdagri serta adanya pegawai Kemdagri yang luka-luka. Dia menegaskan bahwa proses hukum terhadap pelaku harus ditegakkan. “Semalam saya tidak bisa tidur, seolah mereka menampar saya. Harus dibongkar siapa aktor yang menggerakkan mereka. Ada yang 'bermain-main',” ujarnya.

Menurutnya, penyebab beringasnya massa, kemungkinan tidak sekadar masalah Pilkada Tolikara dan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak gugatan sengketa pasangan calon John Tabo dan Barnabas Weya.

Dia memerintahkan Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) Kemdagri, Soedarmo untuk mencari akar permasalahan, sekaligus aktor intelektual yang mendanai massa. Tjahjo mengungkapkan, dirinya sudah berkomunikasi dengan Gubernur Papua, Lukas Enembe.

“Harus terungkap siapa di belakang mereka, siapa aktornya. Indikasinya sudah kelihatan, Pilgub (pemilihan gubernur dan wakil gubernur) Papua tahun depan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, massa tentu merupakan simpatisan suruhan. “Pasti ada yang di belakangnya. Pasti akan terungkap,” imbuhnya.



Sumber: Suara Pembaruan