Kampanye Pilpres Belum Bahas Isu Substansial

Kampanye Pilpres Belum Bahas Isu Substansial
Pilpres 2019. ( Foto: BeritaSatu Photo )
Carlos KY Paath / WBP Senin, 22 Oktober 2018 | 15:18 WIB

Jakarta – Kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 masih berkutat pada isu remeh temeh, dan belum menjual isu substansial. Misalnya saling melapor pernyataan atau perbuatan tim sukses (timses) tertentu, termasuk tudingan kebohongan di media sosial (medsos).

“Sebenarnya ini bagian dari strategi. Karena masa kampanyenya panjang, maka yang paling murah itu gunakan medsos, saling lapor dan sebagainya. Garapan teritoria belum dijalankan,” kata pakar politik dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Muradi saat dihubungi, Senin (22/10).

Untuk diketahui, kampanye pilpres telah dimulai pada 23 September 2018 sampai 13 April 2019. Kampanye pilpres juga berlangsung serentak dengan Pemilu Legislatif (Pileg) 2019. Menurut Muradi, masing-masing kandidat dan timses akan menunggu sampai Januari-Maret 2019 untuk membuka program. “Sebetulnya dalam diskusi berkali-kali, kita tentu ingin juga melihat wacana visi misi dan program para pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Tapi sampai sekarang, publik masih disodorkan isu-isu remeh temeh,” ujarnya.

Ia menyatakan, dalam konteks marketing politik, kampanye harus dilakukan bertahap. Artinya, ada kampanye yang tak langsung menjabarkan program kerja. Kalangan tertentu perlu dikondisikan terlebih dahulu. “Buang-buang waktu misalnya menceritakan ke orang yang beda pilihan. Akan lain jika orang itu dibombardir dengan isu. Ini yang dilakukan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi),” jelasnya.

Ia menuturkan, pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Maruf Amin (Jokowi-Maruf) lebih mudah menyampaikan program. Sebab, Jokowi merupakan capres petahana. “Apa yang dikerjakan Pak Jokowi sekarang bagian dari ke depan. Ada kesinambungan pembangunan,” tuturnya.

Menurutnya, terdapat sejumlah kendala pada kedua timses untuk berkampanye. Salah satunya terkait sosialisasi. Ia mempertanyakan jumlah tim kampanye daerah yang terbentuk. “Katakan sudah 34, di mana saja, dan siapa saja ketuanya? Karena yang saya tahu masing-masing kubu, tidak lebih dari setengah jumlah provinsi,” ujarnya.

Ia menambahkan, faktor berikutnya terkait logistik kampanye. “Logistik ini jadi kendala di pasangan 01 dan 02. Karena ada pemahaman, tiga bulan terakhir yang jadi krusial. Jadi dua kandidat ini kelihatan saling tunggu. Tapi publik itu sekarang ingin dirarahkan pada satu titik di mana hoax atau kebohongan jadi hal biasa. Ini saya kira perlu dicermati betul,” pungkasnya.



Sumber: Suara Pembaruan