Ini Preferensi Pemilih Milenial di Pemilu 2019

Ini Preferensi Pemilih Milenial di Pemilu 2019
Diskusi politik membahas karakteristik Generasi Milenial dalam Pemilu 2019 di Setiabudi, Jakarta Selatan, 23 Oktober 2018. ( Foto: BeritaSatu Photo / Carlos Roy Fajarta )
Carlos Roy Fajarta / WBP Selasa, 23 Oktober 2018 | 17:00 WIB

Jakarta - Angka pemilih milenial di Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 cukup besar dan menjadi segmen suara cukup penting bagi partai politik (parpol) dan calon pasangan Presiden dan Wakil Presiden.

Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Mohamad Guntur Romli menyebutkan dengan proporsi jumlah milenial 1/3 (hampir 40 persen) dari jumlah penduduk saat ini, akan menjadi segmen suara yang penting di Pemilu 2019. "Kita di tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin memiliki departemen sendiri untuk mendekatkan dan menyampaikan visi misi dengan cara yang mudah ditangkap generasi milenial," ujar Romli, dalam diskusi politik di Jakarta Selatan, Selasa (23/10).

Ia menyebutkan perlu teknik khusus untuk menyampaikan visi dan misi politik pada generasi milenial, yakni tidak vulgar dan tidak untuk kepentingan sesaat. Jokowi-Ma'ruf Amin juga terus menyasar segmen kalangan milenial santri yang memiliki preferensi berbeda.

Dia menjelaskan, 8 dari 10 generasi muda milenial terkoneksi dengan internet. Mereka juga selalu ke mal dua kali seminggu. Selain itu, 40 persen memiliki akun Instagram, dan hanya 22 persen yang membaca surat kabar. "Mereka memiliki sifat internet minded, bukan orang fanatik, dompet tipis, suka kerja cepat dan cerdas, cuek atau apatis terhadap politik, suka berbagi pengalaman, tidak mau repot memiliki, percaya diri, kreatif," jelasnya.

Wakil Ketua Umum PP Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Barri Pratama menjelaskan generasi milenial tidak bisa hanya sebagai obyek ceruk suara. Pasalnya, sifat mereka cenderung independen terhadap kandidat capres atau partai politik. "Saya berani menyimpulkan bahwa sampai saat ini belum ada partai politik yang sepenuhnya menyentuh preferensi kalangan generasi milenial dengan karakteristik yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya," kata Barri.

Ia menjelaskan generasi milenial akan senang jika dihargai atau diakui hasil karyanya serta senang bila dirinya menjadi tren dari apa yang ia lakukan (agen sosial).

Pengamat politik UKI, Sidratahta Mukhtar, dari hasil penelitian akademisi internasional, generasi milenial juga rentan dengan kabar bohong (hoax) atau black campaign.

Sedangkan, Ketua Bidang Politik PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Abdul Azis menjelaskan generasi mileneal memiliki preferensi politik antimainstream yang mengedepankan gagasan dan perubahan mengikuti teknologi informasi. "Struktur pemerintah atau parpol sekarang yang usang harus dijembatani mengikuti perkembangan generasi milenial yang sangat menghargai partisipasi, ide-ide kreatif, dan menyentuh esensi pemikiran generasi ini," kata Abdul.



Sumber: Suara Pembaruan