PKB: Perlahan Prabowo Menunjukkan Karakter Aslinya

PKB: Perlahan Prabowo Menunjukkan Karakter Aslinya
Calon Presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto (tengah) memberi sambutan saat hadir dalam reuni 212 di Monumen Nasional, Jakarta, 2 Desember 2018. ( Foto: BeritaSatu Photo / David Gita Roza )
Markus Junianto Sihaloho / YS Kamis, 6 Desember 2018 | 15:31 WIB

Jakarta - Capres Prabowo Subianto marah-marah kepada media massa di Indonesia karena pemberitaan soal aksi Reuni 212. Bagi Politikus PKB Lukman Edy, hal itu menunjukkan satu hal, secara perlahan Prabowo menunjukkan karakter aslinya.

"Saya mengatakan pelan-pelan kan akhirnya karakter Pak Prabowo itu muncul, karakter ingin mendikte media, karakter ingin mem-framing media," kata Lukman Edy, Kamis (6/12).

Menurut dia, karakter demikian adalah karakter seperti 20-an tahun lalu. Yang dimaksudnya tentu era otoriter Orde Baru (Orba). Diapun mengingatkan Prabowo bahwa zaman sudah berubah.

"Yang bisa dilakukan (di Orba), sekarang sudah tak bisa. Sekarang, media adalah salah satu pilar demokrasi," kata Lukman.

Sebelumnya, sejumlah media melaporkan Prabowo Subianto menuding pemberitaan di media sebagian besar memublikasikan berita bohong. Prabowo bahkan menyebut pers adalah antek-antek orang yang ingin menghancurkan Republik Indonesia.

"Pers ya terus terang saja banyak bohongnya dari benarnya. Setiap hari ada kira-kira lima sampai delapan koran yang datang ke tempat saya. Saya mau lihat bohong apalagi nih," kata Prabowo di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Rabu (5/12).

"Enggak usah saya sarankan kalian hormat sama mereka lagi, mereka hanya anteknya orang yang ingin menghancurkan Republik Indonesia," tegas Prabowo.

Kekesalan Prabowo didasari minimnya publikasi acara Reuni 212 yang ia hadiri. Prabowo menuding sikap media-media yang tidak memberitakan acara Reuni 212 tidak objektif.

"Ada belasan (juta) mereka enggak mau melaporkan, mereka sebagai wartawan telah mengkhianati tugas sebagai jurnalis. Kau sudah tidak berhak menyandang predikat jurnalis lagi," katanya.

Menurut Lukman Edy yang mantan menteri itu, harus dipahami oleh Prabowo bahwa media massa punya tanggung jawab menyampaikan fakta apa adanya. Tak mungkin media massa menutup mata dan telinga terhadap fakta di lapangan.

Bila kemudian framing yang hendak ditekankan pihak Prabowo tak bisa diterima pihak media massa, maka seharusnya tak boleh ada paksaan.

"Jadi jangan memandang media ini dengan kaca mata subjektifitas. Biarkan media ini tumbuh dengan subjektifitasnya sendiri, dengan cara pandangnya sendiri. Karena ini tanggung jawab media untuk membangun demokrasi kita," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE