Kalangan Pemilih Milenial Jadi Rebutan Parpol

Kalangan Pemilih Milenial Jadi Rebutan Parpol
Diskusi "Merebut Suara Pemilih Milenial di Pemilu 2019" di Semarang, Jumat (21/12). (Foto: Beritasatu Photo / Stefy Thenu)
Stefi Thenu / FER Jumat, 21 Desember 2018 | 20:58 WIB

Semarang - Pemilih pemula yang berusia 17 tahun antara 1 Januari 2018 hingga 17 April 2019 atau banyak disebut dengan pemilih milenial akan menjadi rebutan parpol maupun capres-cawapres dalam Pemilu 2019 mendatang.

"Jumlah pemilih pemula pada Pemilu 2019 sangat besar. Di tingkat nasional jumlahnya 5 juta lebih. Sekitar 35-40 persen dari total pemilih. Di Jateng, jumlahnya 1.450.000. Itu angka yang cukup signifikan, jadi rebutan parpol atau kandidat capres untuk menang pemilu," ujar Yulianto Sudrajat, Ketua KPU Jateng dalam diskusi "Merebut Suara Pemilih Milenial di Pemilu 2019", di Semarang, Jumat (21/12).

Diskusi yang digelar Forum Wartawan Pemprov dan DPRD Jateng (FWPJT), menghadirkan Ketua KPU Jateng, Anggota Bawaslu Jateng Sri Sumanto, pengamat politik Undip M Yulianto dan Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho.

Yulianto Sudrajat menjelaskan, pemilih pemula atau pemilih milenial ini sangat well informed, namun pasif dalam politik. Mereka banyak menerima informasi dari gadget mereka, tapi lebih asyik menikmati media sosial (Medsos) daripada berita politik khususnya pemilu. "Ini tantangan bagi parpol, jika ingin merebut suara mereka, pikirkan cara dan pendekatannya," ujarnya.

Anggota Bawaslu Jateng, Sri Sumanto menambahkan, pemilih milenial ini kritis tapi juga reaktif. "Tanpa memilah ini hoax atau bukan, mereka rajin share informasi kepada teman-temannya di grup WhatsApp atau medsosnya. Ini yang perlu diberi diluruskan, diberi pencerahan," tegasnya.

Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho mengungkapkan, pemilih milenial sangat dipengaruhi oleh derasnya informasi dari medsos. Mereka berada dalam kondisi asimetris informasi, dimana di medsos seperti terjadi perang, padahal di dunia nyata kondisi baik-baik saja.

"Kami mencatat, masuk tahun politik jumlah berita hoax di medsos mencapai 100-an perbulan, separuh lebih diantaranya hoax politik, itu jadi santapan mereka," ujarnya.

Septiaji menyayangkan, parpol yang tidak mengangkat isu-isu yang mencerdaskan seperti isu lingkungan, reformasi birokrasi dan sebagainya. Namun, lebih asyik mendulang isu politik identitas yang berpotensi memecah belah bangsa.

Pengamat politik Undip, M Yulianto menilai, jumlah pemilih milenial yang sangat signifikan itu harus dimanfaatkan betul oleh parpol dengan pendekatan khusus. Mengikuti gaya dan kesukaan mereka.

"Tak heran, sekarang capres cawapres mengikuti gaya milenial, untuk mendekati dan memikat hati mereka. Tapi gaya saja tidak cukup, karena mereka juga butuh figur yang menurut mereka bisa dipercaya dan dapat menjamin masa depan mereka," tegasnya.



Sumber: Suara Pembaruan