Situasi Politik Diprediksi Tak Memanas

Situasi Politik Diprediksi Tak Memanas
Capres dan Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri) dan Ma'ruf Amin (kiri) bersama Capres dan Cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kedua kanan) dan Sandiaga Salahudin Uno (kanan) bersalaman usai acara Deklarasi Kampanye Damai Pemilu Serentak 2019 di Silang Monas, Jakarta, Minggu 23 September 2018. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao / SP/Joanito De Saojoao )
Carlos KY Paath / WM Rabu, 2 Januari 2019 | 15:08 WIB

 

Jakarta - Situasi politik Tanah Air tidak akan memanas setelah Pemilu. Sedangkan sebelum Pemilu, adu pernyataan yang bernada keras antara para elite politik merupakan suatu kewajaran.

“Pemilu di Indonesia ini menarik. Sedikit panas saat kampanye, tapi setelahnya sudah mudah lagi untuk menyatu,” kata Direktur Eksekutif Indopolling, Wempy Hadir saat dihubungi, Rabu (2/1).

Apabila kepentingan elite yang kalah bertemu dengan pemenang, menurutnya, maka semuanya pasti bersatu. Diungkapkan, ribut-ribut politik di Indonesia belum sampai terjadi di tingkat bawah atau masyarakat kecil.

“Kalau yang ribut di bawah seperti yang terjadi di Amerika Latin, ini bisa lama. Tapi ribut ini kan dikendalikan elite. Kalau elite di atas sudah punya konsensus dengan kekuasaan terpilih, saya kira tidak terlalu mengkhawatirkan,” ujarnya.

Hal berbeda, masih kata Wempy, jika terjadi kecurangan massif dalam pelaksanaan pemungutan, dan penghitungan suara Pemilu. “Kecuali ada kecurangan, mungkin itu bisa jadi indikasi akan terjadi chaos politik,” ucapnya.

Oleh karena itu, ia menyatakan, peranan penyelenggara dan pengawas Pemilu menjadi sangat penting. Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) perlu memastikan Pemilu berlangsung adil.

Ia menambahkan, para elite yang berkompetisi juga sepatutnya mempunyai pemikiran jangka panjang. “Elite-elite politik harus pikirkan kepentingan bangsa yang utama. Jauh dari kepentingan politik lima tahunan,” imbuhnya.

Dengan begitu, menurutnya, maka tak ada peningkatan eskalasi politik yang merugikan bangsa pascapemilu. Selain itu, ia mengatakan, dibutuhkan sikap legawa dalam menerima hasil Pemilu.

“Perlu lapang dada. Bagi siapapun yang kalah, tidak merasa ini akhir dari pertarungan politik. Walau kalah, kan, tetap bisa jadi kritikus politik atau oposisi. Itu kan juga bagian penting membangun republik,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE