Pengamat: Perubahan Visi dan Misi Tidak Mempunyai Dampak Elektoral

Pengamat: Perubahan Visi dan Misi Tidak Mempunyai Dampak Elektoral
Kampanye Prabowo Subianto di Ambon, 28 Des. 2018. ( Foto: Istimewa )
Yustinus Paat / FMB Sabtu, 12 Januari 2019 | 17:48 WIB

Jakarta - Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai langkah mengubah dokumen visi-misi dan program bisa menjadi blunder bagi pasangan capres-cawapres Nomor Urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Masyarakat, kata dia, bisa menilai Prabowo-Sandi tidak serius dan siap menjadi pemimpin Indonesia.

"Kalau ini dianggap strategi, maka akan menjurus pada strategi blunder karena masyarakat akan menilai mereka tidak serius, diubah-ubah di tengah jalan," kata Ujang di Jakarta, Sabtu (12/1).

Menurut Ujang, perubahan visi, misi dan program tidak mempunyai dampak elektoral apapun. Yang jelas, kata dia, pemilih Jokowi-Ma'ruf tetap setia dengan pilihannya meskipun Prabowo-Sandi mengubah visi-misi dan program.

"Tidak akan juga merubah pilihan politik swing voters. Yang dapat merubah pilihan swing voter adalah penampilan capres dam cawapres di debat," tandas dia.

Sejatinya, kata dia, paslon capres dan cawapres harus siap dari awal dalam mempersiapkan visi, misi, dan program terbaik dan tidak mengubah-ubah di tengah jalan. Apalagi sudah diatur dalam UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu dan Peraturan KPU.

"Jadi mempersiapkan visi-misi sebaik mungkin di awal dulu adalah langkah terbaik agar tidak mengubah di tengah jalan yang bisa membuat kegaduhan," tutur dia.

Ujang juga tidak menampik jika kubu Prabowo-Sandi menjadikan perubahan visi-misi sebagai strategi untuk membangun pencitraan. Menurut dia, kubu Prabowo-Sandi sedang memainkan emosi rakyat. Karena ketika visi-misi hasil revisi ditolak KPU, seolah-olah KPU yang salah.

"Mereka ingin mendapat simpati rakyat ketika ditolak KPU. Padahal KPU berhak untuk menolak. Bisa juga untuk membuat pemberitaan agar meraih simpati dan dukungan rakyat," pungkas dia.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE