PSI Ajak Komunitas Bandung Barat Terjun dalam Politik

PSI Ajak Komunitas Bandung Barat Terjun dalam Politik
Sekjen PSI Raja Juli Antoni saat acara temu sejumlah komunitas di Bandung Barat, Bandung, Sabtu, 12 Januari 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Yustinus Paat )
Yustinus Paat / JAS Sabtu, 12 Januari 2019 | 23:00 WIB

Bandung Barat - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengadakan temu komunitas di Bandung Barat sebagai salah satu rangkaian acara Solidarity Tour di Jawa Barat pada 12-17 Januari 2019.

Temu komunitas ini dihadiri di antaranya Forum Silaturahmi Padalarang, Paguyuban Sampurasun, Pecinta Alam Jarambah, Komunitas Bambu Nusantara, Komunitas Motor Catuas X Padalarang, Pencak Silat Gajah Putih Mega Paksi Pusaka, Forum Komunikasi Pendidik Anak Bandung, Komunitas Sunan Gunung Djati Bandung, Paguyuban Raya Bandung dan Cimahi, Perkumpulan Suporter Persib, dan Komunitas BKC.

Dalam kesempatan itu, Sekretaris Jenderal PSI, Raja Juli Antoni mengajak komunitas-komunitas untuk ikut andil dalam kegiatan berpolitik. Antoni mengatakan kegiatan komunitas adalah kegiatan politik.

“Sebenarnya kegiatan komunitas itu juga kegiatan politik. Tidak ada satupun dari helaan napas kita ini yang bukan politik,” kata Antoni di acara temu komunitas tersebut.

Antoni juga mengingatkan jangan sampai politik berada di tangan politisi lama yang tidak prorakyat. “Jangan sampai politik dikuasai oleh 4L, Lo Lagi Lo Lagi,” tambah dia.

Lebih jauh, Antoni mengingatkan bahwa Indonesia sebenarnya tidak kekurangan orang berintegritas, hanya saja belum banyak yang bersedia untuk mengambil andil.

“Sesungguhnya kita tidak pernah kekurangan stok orang baik di Indonesia ini, tapi yang jadi masalah adalah orang-orang baiknya tidak mau terjun langsung di politik,” ujar dia.

Antoni kemudian mengimbau komunitas-komunitas di Bandung Barat untuk merapatkan barisan dan ambil bagian dalam politik mengingat Indonesia sedang mengalami ancaman besar. Dia mengajak komunitas-komunitas di Bandung Barat untuk sama-sama menjaga perbedaan budaya serta kearifan lokal sebagai aset bangsa Indonesia.

“Sekarang adanya gelombang besar yang masuk ke Indonesia, ada usaha untuk menyeragamkan kita, bahkan tidak mengakui kearifan-kearifan lokal Indonesia dengan berbagai macam terminologi,” pungkas dia.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE