Kuliah Umum di Universitas Paramadina, Wapres: Politik Indonesia Stabil

Kuliah Umum di Universitas Paramadina, Wapres: Politik Indonesia Stabil
Wakil Presiden Jusuf Kalla memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Universitas Paramadina di Jakarta, Kamis, 17 Januari 2018. ( Foto: Istimewa / Istimewa )
Asni Ovier / AO Jumat, 18 Januari 2019 | 10:50 WIB

Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, stabilitas politik di Indonesia berjalan baik di tahun politik dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara atau negara lainnya. Hal itu terbukti dengan tidak adanya konflik dalam pelaksanaan pemilihan umum (pemilu).

"Saya yakin, di antara negara-negara ASEAN dan negara lainnya, Indonesia mempunyai stabilitas politik yang baik. Meskipun pemilu ribut di dunia maya, ribut di televisi, dan sebagainya, tetapi tidak ada masalah di lapangan," kata Wapres saat memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa Universitas Paramadina bertema "Indonesia and The World: Future Trajectory Opportunities and Challenges" yang dilaksanakan di Hotel Mandarin Oriental Jakarta, Kamis (17/1).

JK mengatakan euforia pesta demokrasi lima tahun sekali di Indonesia saat ini lebih terasa di media sosial dan media arus utama, seperti televisi. Di lapangan, kata dia, justru tidak ada keributan akibat keberpihakan politik di Pilpres 2019. Pilpres dengan dua kubu pasangan calon yang bertarung, namun tidak terjadi konflik, menjadi kunci keberlangsungan demokrasi di Tanah Air.

"Tidak ada konflik di antara kita semua. Itu modal pokok bahwa demokrasi Indonesia bisa berjalan dengan baik, walau ada tantangan-tantangan demokrasi yang timbul dari hal-hal tersebut," jelasnya. Tantangan tersebut, kata JK, terlihat dari tren demokrasi di sejumlah negara maju, seperti Amerika Serikat dan Inggris, yang menurut JK semakin populis.

Hal itu antara lain disebabkan oleh timbulnya pesimisme terhadap sistem demokrasi di kalangan masyarakat negara maju. Fenomena Donald Trump, yang memenangi Pilpres AS dan menerapkan sejumlah kebijakan ekslusif di negaranya, serta referendum Brexit (British Exit) dari Uni Eropa, menjadi bukti bahwa tren politik dunia cenderung berpihak pada kepentingan masyarakat.

"Sindrom Trump dan Brexit itu menjadi suatu tanda bahwa orang menjadi lebih populis, karena akibat kegagalan prinsip demokrasi yang mengutamakan kepada angka-angka, tetapi tidak kepada sisi 'human' dari demokrasi tersebut," kata JK. Oleh karena itu, Wapres berpesan kepada generasi muda dan penerus bangsa untuk tidak mengabaikan tren tersebut, sehingga dapat menghadapi sejumlah tantangan demokrasi di Tanah Air.

"Tantangan itu bagi kita merupakan bagian yang harus kita hadapi, dan tentu kita juga harus memperhatikan tren di dunia ini. Karena itulah, kita melihat peran dan pandangan keterbukaan yang populis, yang menimbulkan suatu bangsa menjadi berubah dan maju," ujar Wapres.



Sumber: ANTARA