Tanpa Pers, Sulit Bedakan Fakta dengan Hoax

Tanpa Pers, Sulit Bedakan Fakta dengan Hoax
Ilustrasi media cetak ( Foto: Istimewa )
Robertus Wardi / YUD Minggu, 10 Februari 2019 | 19:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat Komunikasi Politik Silvanus Alvin mengemukakan keberadaan media atau pers adalah mutlak bagi perkembangan peradaban manusia. Menakutkan bila membayangkan pers sirna dari dunia ini. Masyarakat pasti kebingungan informasi mana yang dapat dipercaya. Pada kondisi itu, masyarakat mudah tercerai-berai dan terpecah.

"Bila pers yang kredibel dan independen memutuskan untuk shutdown, maka itulah tanda-tanda kiamat," kata Alvin di Jakarta, Minggu (10/2).

Ia menjelaskan pencetus sembilan elemen jurnalisme Kovach dan Tom Rosenstiel menetapkan bahwa elemen pertama dari media adalah berpihak pada kebenaran dan hanya kebenaran. Artinya, pers dituntut mewartakan kebenaran. Sebab, berita yang dipublikasikan oleh pers punya relevansi tinggi dalam pengambilan keputusan.

Karena itu, pers wajib membuat berita yang berdasar fakta, agar para policymakers (pengambil kebijakan) bisa membuat keputusan yang baik dengan segala pertimbangannya.

Menurutnya, keberadaan pers semakin penting terutama di era saat ini, era dimana ada ambiguitas terhadap fakta. Tanpa pers, sulit membedakan mana fakta yang sesuai realitas dan mana 'fakta’ yang menyesatkan atau hoax.

Dia mengutip‎ laporan yang dipublikasikan oleh Edelman Trust Barometer Global tahun 2018. Laporan itu menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pers mencapai 59 persen. Bila dibandingkan tahun lalu, tingkat kepercayaan pada 2017 hanya 54 persen. Artinya ada peningkatan 5 persen.

"Tren tersebut bernada positif terutama dalam perang melawan hoax. Masyarakat mulai melakukan verifikasi ke produk pers yang sejati," tuturnya.

Dia menegaskan ‎perkembangan teknologi memang memampukan semua individu menjadi produsen informasi. Namun, tidak semua memahami cara kerja pers yang mengharuskan laporan yang dibuat berdasarkan kebenaran.

"Pers itu bak pendekar kebenaran. Di masa yang bertebaran hoax inilah, pendekar kebenaran perlu hadir," tuturnya.

Dia melihat dalam semangat Hari Pers nasional yang jatuh tiap tanggal 9 Februari, generasi milenial tidak boleh memiliki sikap taken for granted atau memandang sebelah mata eksistensi pers. Tanpa pers, demokrasi akan runtuh karena pers adalah pilar ke empat demokrasi.

"Pers menjadi watch dog, yang mengawasi eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Pers ada supaya kekuasaan yang dipegang elite tidak keluar dari jalur yang semestinya," tutup Alvin.

 



Sumber: Suara Pembaruan