Media Arus Utama Dibutuhkan untuk Verifikasi Fakta

Media Arus Utama Dibutuhkan untuk Verifikasi Fakta
Suasana Pameran Hari Pers Nasional 2019 di Grand City, Surabaya, 8 Februari 2019. ( Foto: BeritaSatu Photo / Chairul Fikrie )
Carlos KY Paath / FMB Senin, 11 Februari 2019 | 09:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Masyarakat dunia akan kehilangan pegangan mendapatkan informasi yang sesuai fakta jika media arus utama shutdown (tutup). Peranan media arus utama tetap sangat dibutuhkan publik.

“Media arus utama sangat penting. Selain pegangan untuk masyarakat, pegangan juga untuk kami di fact checker (pengecekan fakta) Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (Mafindo) ,” kata ketua tim fact checker Mafindo, Aribowo Sasmito saat dihubungi Beritasatu.com, Senin (11/2).

Aribowo menuturkan, pihaknya menggunakan hasil verifikasi jurnalis yang dimuat media arus utama sebagai referensi. Tanpa acuan media arus utama, menurut Aribowo, pihaknya tak ada pegangan fakta yang valid.

“Kami tidak bisa berdiri sendiri, maka perlu hasil verifikasi jurnalis dan media. Verifikasi: sebelum berita naik, fact check: setelah berita naik menggunakan hasil verifikasi,” demikian jelas Aribowo yang juga co-founder Mafindo.

Aribowo menegaskan, media sosial (medsos) sama sekali tak dapat menggantikan peranan pers. Sebab, sifat medsos dan dunia internet kerap berdampak negatif. Salah satunya digunakan untuk menjadi sarana penyebaran pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Aribowo menuturkan, sejumlah orang bisa menyaru menjadi media dalam medsos dan internet. Di sisi lain, lanjut Aribowo, masih banyak masyarakat yang tidak memahami media kredibel dan sumber akurat.

“Di medsos atau internet kan banyak akun atau situs yang tinggal dikasih embel-embel nama 'news' (berita) dan atau menggunakan teknik tertentu, misalnya menambahkan kata 'valid', 'info A1'. Orang-orang yang tidak paham langsung dengan gampangnya percaya,” tutur Aribowo.

Aribowo mengungkapkan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan medsos kerap dijadikan alat menebar fitnah, hoaks, termasuk ujaran kebencian. Misalnya terkait supply and demand.

Selama masih ada “pasar” untuk bisa digarap oleh “produsen” konten , menurut Aribowo, maka akan selalu ada pihak yang tertarik untuk menjadi penyedia. Hal ini sebenarnya dapat dihentikan. Dimulai dari pribadi pengguna medsos yang semoga diikuti dengan orang sekitarnya.

“Setop menggunakan medsos untuk ujaran kebencian, hoaks, dan hal-hal negatif lainnya. Kenapa harus dimulai dari diri sendiri? Karena mengharapkan dimulai dari pihak penyedia enggak mungkin, balik ke soal penyediaan dan permintaan tadi,” tegas Aribowo.



Sumber: Suara Pembaruan