Media Arus Utama Kian Dibutuhkan

Media Arus Utama Kian Dibutuhkan
Ilustrasi pers. ( Foto: Beritasatu.com )
Yustinus Paat / ALD Senin, 11 Februari 2019 | 16:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Media massa arus utama (mainstream) semakin dibutuhkan di tengah serbuan media massa abal-abal dan media sosial (medsos). Kehadiran media mainstream menjadi ujung tombak menangkal informasi hoax dan ujaran kebencian yang marak disebarkan melalui media abal-abal dan medsos, yang terbukti merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Untuk itu, keberadaan media arus utama harus diperkuat. Upaya ini melibatkan pemerintah, insan pers, dunia usaha, serta pemilik dan pengelola media.

Secara khusus, pemilik media dan dunia usaha diharapkan komitmennya untuk tetap menjaga kelangsungan hidup media arus utama. Sebab, jika media abal-abal dan medsos yang menjadi sumber informasi utama masyarakat, akan menimbulkan dampak yang merugikan, di segala aspek kehidupan, mulai stabilitas politik, keamanan, ekonomi, dan sosial.

Demikian rangkuman pendapat Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo, pengamat komunikasi politik dari Universitas Mercu Buana Maximus Ramses Lalongkoe, dan pengamat politik dari Universitas Indonesia Donny Gahral Adian.

Yosep Adi Prasetyo menegaskan, salah satu cara mencegah semburan hoax yang marak terjadi belakangan ini adalah memperkuat media-media mainstream. Pasalnya, proses seleksi berita di media mainstream sangat ketat dengan berpijak pada prinsip-prinsip jurnalistik.

“Harus diakui ketika banyak berita hoax yang beredar di media sosial dan beberapa media online, pilihan masyarakat untuk memperoleh kebenaran informasi adalah media-media mainstream,” ujar Yosep yang akrab disapa Stanley, di Jakarta, Senin (11/2).

Stanley mengakui, masyarakat Indonesia sudah jenuh dengan hoax yang beredar. Sebab, masyarakat kian menyadari bahwa selama ini mereka menerima informasi yang menyesatkan, membingungkan, tidak berdasar fakta objektif, dan cenderung provokatif yang mengancam keutuhan bangsa.

“Media mainstream tetap menjadi clearing house dan rujukan bagi masyarakat untuk memastikan kebenaran suatu informasi. Proses check dan recheck, serta seleksi yang ketat melalui redaksi, membuat media mainstream masih dipercaya,” ungkapnya.

Karena itu, Stanley mendorong agar media-media mainstream perlu diperkuat sehingga mampu bertahan hidup dan menjalankan fungsinya untuk mencegah hoax. Salah satunya, kata dia, adalah kebijakan afirmatif dari pemerintah kepada media mainstream, khususnya media cetak.

“Pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan khusus untuk memperkuat media mainstream, misalnya, membebaskan pajak kertas untuk media cetak sehingga tidak membebani bisnis mereka. Poinnya, adalah untuk kepentingan umum, karena informasi yang disebarkan media cetak mainstream adalah untuk kepentingan umum,” jelasnya.

Di sisi lain, media mainstream juga diingatkan tetap menjaga dan menerapkan prinsip-prinsip verifikasi, klarifikasi, dan konfirmasi atas suatu informasi atau fakta, tidak mudah tergoda dengan berita viral, dan tetap berpegang pada prinsip check and recheck.

“Kemudian perlu memperkuat kode etik jurnalistik bagi wartawan. Karena wartawan sekarang cenderung melupakan kode etik jurnalistik dalam bekerja,” ujarnya.

Saat peringatan Hari Pers Nasional di Surabaya, Sabtu (9/2) lalu, Presiden Joko Widodo juga menegaskan pentingnya media arus utama untuk memerangi hoax. “Saya senang, masyarakat di Indonesia masih percaya, dan grafiknya dari tahun ke tahun makin percaya dengan informasi yang disajikan pers dan media pers konvensional, ketimbang informasi yang disampaikan oleh media sosial. Itu artinya, masyarakat masih butuh informasi yang benar seusai data dan fakta yang disajikan pers dan media konvensional di Indonesia, dan ini yang harus dipertahankan oleh para insan pers di Tanah Air,” ungkap Presiden.

Di tengah kegaduhan yang kerap muncul lantaran informasi yang disebarkan medsos, Presiden berharap media mainstream menjadi garda terdepan sebagai sumber informasi yang valid bagi masyarakat. Di sisi lain, Presiden juga meminta masyarakat jeli memilih dan memilah informasi yang diterima, untuk membuat kenyamanan dan ketenteraman dalam masyarakat terlebih di masa-masa pemilu seperti ini.

“Media (arus utama) dan insan pers masih dibutuhkan masyarakat untuk menyajikan informasi yang benar dan terverifikasi. Pers masih dibutuhkan untuk mengambil peranan sebagai rumah komunikasi dan sebagai kontrol sosial bagi pemerintah. Bahkan pers masih dibutuhkan untuk menumbuhkan harapan besar pada pembangunan bangsa kita ke depan agar menjadi bangsa yang besar dan ditakuti oleh dunia,” kata Presiden.

Seleksi Informasi
Pandangan senada disampaikan Maximus Ramses Lalongkoe. Menurutnya, peran media mainstream masih sangat penting di era semburan hoax yang merajalela, karena menjadi rujukan masyarakat untuk memastikan validitas atau kebenaran suatu informasi. Media mainstream memiliki aturan main yang sangat ketat dalam proses penyajian berita. Kelayakan sebuah informasi untuk diberitakan melalui proses panjang, sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

“Dalam konteks ini, suatu informasi, di tangan media mainstream, sudah diketahui apakah itu benar atau hoax,” tutur dia.

Secara terpisah, Donny Gahral Adian menilai, peran media mainstream masih sangat besar untuk menangkal hoax, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, dan menebarkan kebaikan. Apalagi, saat ini masyarakat mulai jenuh dengan informasi yang disebarkan melalui medsos, karena mayoritas hoax.

“Yang jelas, masyarakat lama kelamaan akan jenuh dengan hoax yang menyesatkan, membingungkan, dan bisa memecah belah masyarakat dan bangsa. Karena itu, peran media mainstream masih sangat penting,” tegas Donny.



CLOSE