Fungsi Pers Tak Tergantikan Medsos

Fungsi Pers Tak Tergantikan Medsos
Ilustrasi pers. ( Foto: Istimewa )
Carlos KY Paath / Robert Wardy / ALD Senin, 11 Februari 2019 | 16:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Fungsi pers yang dijalankan oleh media arus utama (mainstream) tak dapat digantikan oleh media sosial (medsos). Fungsi untuk memberi informasi, pendidikan, hiburan, serta menjadi kontrol sosial hanya bisa dilakukan media arus utama yang memegang prinsip check and balances terhadap suatu informasi sebelum diberitakan kepada masyarakat.

Demikian disampaikan pengamat komunikasi politik Silvanus Alvin, Ketua Tim Fact Checker Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Aribowo Sasmito, pakar komunikasi dari Universitas Brawijaya Anang Sujoko, dan analis politik dari Exposit Strategic Arif Susanto, yang dihubungi secara terpisah, Minggu (10/2) dan Senin (11/2).

Silvanus Alvin berpandangan, keberadaan media arus utama atau pers mutlak bagi perkembangan peradaban manusia. “Menakutkan bila membayangkan pers sirna dari dunia ini. Masyarakat pasti kebingungan informasi mana yang dapat dipercaya. Pada kondisi itu, masyarakat mudah tercerai-berai dan terpecah,” ujarnya.

Dia mengingatkan, pencetus sembilan elemen jurnalisme Kovach dan Tom Rosenstiel menetapkan bahwa elemen pertama dari media adalah berpihak pada kebenaran dan hanya kebenaran. “Artinya, pers dituntut mewartakan kebenaran. Sebab, berita yang dipublikasikan oleh pers punya relevansi tinggi dalam pengambilan keputusan.

Karena itu, pers wajib membuat berita yang berdasar fakta, sehingga bisa diambil keputusan terbaik dengan segala pertimbangannya,” jelasnya.

Menurut Silvanus Alvin, keberadaan pers semakin penting dalam era di mana ada ambiguitas terhadap fakta. Tanpa pers, sulit membedakan mana fakta yang sesuai realitas dan mana informasi yang menyesatkan atau hoax.

“Ada tren kepercayaan kepada lembaga media pers meningkat. Ini positif dalam perang melawan hoax. Masyarakat mulai melakukan verifikasi ke produk pers yang sejati,” tuturnya.

Perkembangan teknologi informasi memang memampukan semua individu menjadi produsen informasi. Namun, tidak semua memahami cara kerja pers yang mengharuskan laporan yang dibuat berdasarkan kebenaran.

“Pers itu bak pendekar kebenaran. Di masa yang bertebaran hoax inilah, pendekar kebenaran perlu hadir,” tegas Silvanus.

Tak Tergantikan
Aribowo Sasmito juga mengingatkan, masyarakat akan kehilangan rujukan mendapatkan informasi yang sesuai fakta jika media arus utama sirna. Peranan media arus utama tetap sangat dibutuhkan publik.

Dia menegaskan, medsos sama sekali tak dapat menggantikan fungsi pers. Sebab, pesan yang disebarkan medsos dan juga media massa abal-abal kerap berdampak negatif. Salah satunya digunakan untuk menjadi sarana penyebaran informasi yang menyesatkan dan provokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi mewujudkan kepentingannya.

Menurut Aribowo, yang menjadi tantangan saat ini adalah masih banyak masyarakat yang tidak memahami mana media kredibel yang bisa menjadi sumber informasi yang akurat. “Di medsos banyak akun atau situs yang bisa dibuat sedemikian rupa, sehingga publik terkecoh seolah-oleh itu media massa pada umumnya. Banyak masyarakat yang tidak paham dengan cara ini, sehingga dengan gampangnya percaya terhadap informasi yang disebarkan,” tuturnya.

Aribowo mengungkapkan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan medsos kerap dijadikan alat menebar fitnah, hoax, dan ujaran kebencian. Salah satunya adanya supply and demand.

“Selama masih ada pasar untuk bisa digarap oleh produsen hoax, akan selalu ada pihak yang tertarik untuk menjadi penyedia. Hal ini sebenarnya dapat dihentikan. Dimulai dari pribadi pengguna medsos, yang semoga diikuti dengan orang sekitarnya,” jelasnya.

Sementara itu, Anang Sujoko menjelaskan, media massa arus utama tetap menjadi kebutuhan masyarakat di era informasi saat ini. “Media massa arus utama tetap menjadi sumber validasi informasi yang tersebar di medsos. Jika tidak ada media massa yang peduli, medsos dan media-media online yang dikelola insan non-pers atau individu akan jadi sumber alternatif. Jika hal ini tidak segera diperbaiki, maka kekacauan kebenaran informasi bakal terjadi,” tegas Anang.

Sedangkan, Arif Susanto mengemukakan meski sulit untuk dibayangkan, fenomena media shutdown (hancurnya media arus utama) bukan tidak mungkin terjadi. Selain transformasi teknologi, rapuhnya kepercayaan sosial dapat menjadi pendorong ambruknya institusi media.

“Saat ini, kita memasuki masa senja kala media cetak seiring perkembangan teknologi digital dalam informasi dan komunikasi. Tidak hanya media kecil, kelompok media besar pun dituntut bertransformasi jika tidak ingin dilibas perubahan tersebut. Bukan sekadar menyangkut platform, pergeseran organisasi dan cara kerja media menjadi bagian penting untuk beradaptasi dengan era media baru ini,” jelasnya.

Ia menjelaskan kehadiran medsos telah mengaburkan batas antara berita dan opini. Ditambah kelimpahruahan informasi dan kemalasan kognitif, hal ini membuka pintu bagi menjamurnya hoax. Berkaca terhadap situasi tersebut, kehadiran media arus utama menjadi suatu kebutuhan. Media semacam ini bukan hanya menjadi instrumen kontrol kekuasaan pemerintah maupun elemen-elemen lain dalam masyarakat, tetapi juga dapat menjadi bagian mesin pertumbuhan ekonomi.



CLOSE