Dino: WNI di Luar Negeri Buta Soal Kapasitas Caleg

Dino: WNI di Luar Negeri Buta Soal Kapasitas Caleg
Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia, Dino Patti Djalal ( Foto: BeritaSatu TV )
Robertus Wardi / HA Selasa, 12 Februari 2019 | 17:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal mengemukakan pengalamannya dalam beberapa kali pelaksanaan Pemilu. Warga diaspora Indonesia yang berada di berbagai belahan dunia tidak punya pengetahuan atau data mengenai Daftar Calon Anggota Legislatif (Caleg) yang maju dalam Pemilu Legislatif (Pileg).

Mereka blank, kosong dan tidak punya catatan siapa caleg yang akan maju yang bisa mewakili perjuangan masyarakat diaspora. Banyak warga diaspora yang memilih on the spot atau baru memutuskan ketika sudah ada di tempat pemungutan suara (TPS).

“Asal coblos aja karena punya kewajiban memilih. Tapi mereka tidak tahu siapa orang yang mereka pilih,” kata Dino dalam konferensi pers di Mayapada Tower 1, Jalan Jendral Sudirman, Jakarta, Selasa (12/2).

Ia menjelaskan kondisi itu terjadi karena jarak geografis antara Indonesia dengan negara-negara lain tempat para diaspora bermukim. Jarak yang jauh membuat informasi tentang caleg sangat minim diterima warga diaspora. Di sisi lain, para caleg tidak bisa kampanye keliling dunia karena memerlukan biaya tinggi. Perjalanan dari satu negara ke negara lain hanya ingin bertemu dengan beberapa orang atau puluhan orang, cukup merepotkan dan membebankan para caleg.

“Dengan kondisi itu, kami membentuk sebuah lembaga namanya Foreign Policy Community Indonesia (FPCI). Ini menginisiasi sebuah program berbasis digital diaspora Know Your Caleg (KYC). Tujuannya untuk mengatasi tantangan terbesar partisipasi diaspora Indonesia yaitu sangat kurangnya rasa memiliki warga diaspora terhadap para caleg-nya,” jelas Dino.

Dia mengemukakan diaspora Indonesia memiliki 2,2 juta hak suara yang masuk dalam Dapil DKI 2 meliputi Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan pemilihan luar negeri. Meski memiliki kantong-kantong suara cukup besar yaitu 1,6 juta di Jakarta Selatan dan 600.000 di Jakarta Pusat, diaspora Indonesia hingga kini masih belum merasa mempunyai caleg Diaspora.

“KYC dilakukan untuk meningkatkan rasa keterwakilan diaspora. Di sisi lain, caleg Dapil DKI 2 bisa memposisikan diri mereka sebagai caleg Diaspora yang memperhatikan asporasi diaspora Indonesia,” tutur Dino.

Menurutnya, ada 105 caleg dari 16 partai politik akan diwawancara oleh FPCI untuk memaparkan posisi dan solusi mereka mengenai isu-isu diaspora. Beberapa isu yang akan dibahas adalah masalah dwi kewarganegaraan, perlindungan TKI, pendidikan dan peran strategis diaspora Indonesia terhadap pembangunan Indonesia secara umum. Hasil dari keseluruhan wawancara akan ditayangkan di website khusus dengan nama www.calegdiaspora.org agar dapat diakses secara luas oleh komunitas Indonesia di luar negeri.

“Ini akan meningkatkan kualitas demokrasi sekaligus mereformasi sistem pemilu agar lebih responsif bagi kepentingan diaspora. FPCI bertindak sebagai fasilitator yang netral dan tidak memiliki bias politik,” tutup Dino.



CLOSE