Soal Puisi, Fadli Zon Tolak Minta Maaf

Soal Puisi, Fadli Zon Tolak Minta Maaf
Fadli Zon. ( Foto: Antara )
Carlos KY Paath / YUD Selasa, 12 Februari 2019 | 18:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Wakil Ketua DPR Fadli Zon menolak meminta maaf terkait puisinya berjudul 'Doa yang Ditukar'. Sebab, Fadli merasa tidak melakukan pelanggaran hukum.

“Untuk apa (minta maaf)? Saya tidak ada perbuatan yang melawan hukum di situ,” kata Fadlli di Kantor Sekretariat Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Jakarta, Selasa (12/2).

Fadli menegaskan, puisinya sama sekali tak menyinggung salah satu ulama Nahdlatul Ulama (NU) Maimoen Zubair (Mbah Moen). Hal itu jika orang mempunyai literasi mumpuni.

“Saya berulang kali katakan itu bukan buat Mbah Moen. Mbah Moen itu saya hormati. Saya sebut (di puisi) kau penguasa tengik, emang Mbah Moen penguasa?,” tegas Fadli.

Disinggung adanya ancaman santri akan menggugat, Fadli justru menyatakan tak melihat hal tersebut. Khususnya santri Pondok Pesantren (ponpes) Al Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Fadli mengaku sudah berbicara dengan kiai Ponpes Al Anwar yang didirikan dan diasuh Mbah Moen. “Mereka enggak ada mau laporkan puisi. (santri lain) silakan saja (lapor),” ungkap Fadli.

Fadli menjelaskan, puisi merupakan bagian dari ekspresi dirinya menyikapi sesuatu hal. “Bukan ke Mbah Moen yang sedang berdoa. Jadi tolong digunakan akal sehat,” tukas Fadli.

Fadli yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra menambahkan, ada pihak tertentu yang sengaja memainkan polemik puisi.

“Ya memang digoreng, kan jelas sekali. Coba baca dengan pikiran jernih dengan akal sehat. Enggak ada apa-apa di situ. Mau diperdebatkan apanya?,” imbuh Fadli.

Fadli menuturkan, dirinya sudah menggemari puisi sejak berumur 12 tahun sampai 20 tahun. Ketika itu, Fadli mengaku telah membuat buku puisi sendiri.

Pasalnya, puisi itu bagian dari media berekspresi. Fadli mengapresiasi apabila ada elemen masyarakat yang mengikuti jejaknya menulis puisi.

“Ya lebih bagus kan, daripada teriak-teriak enggak jelas. Lebih bagus lah berekspresi lah di situ (puisi). Sehingga ada tingkat abstraksi, metafora dan sebagainya. Supaya otak kita yang jarang digunakan mungkin bisa diaktivasi, begitu juga dengan rasa,” pungkas Fadlli.




Sumber: Suara Pembaruan