Neno Dinilai Bukan Terjebak Fanatisme Agama, tetapi Politik

Neno Dinilai Bukan Terjebak Fanatisme Agama, tetapi Politik
Abdul Kadir Karding ( Foto: istimewa )
Markus Junianto Sihaloho / WBP Sabtu, 23 Februari 2019 | 13:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding, menilai apa yang diucapkan Neno Warisman dalam acara Munajat 212 di Monas Kamis (21/2/2019) malam tidak pantas disebut sebagai doa, melainkan orasi politik yang bersifat pragmatis berkedok agama.

Menurut Karding, pilihan diksi dalam ucapan Neno tampak dibuat untuk menggiring opini publik. Seolah-olah hanya mereka kelompok yang menyembah Allah. Sedangkan kelompok lain yang berseberangan bukan penyembah Allah.

"Pertanyaan saya dari mana Neno bisa mengambil kesimpulan itu? Apa ukurannya sampai dia bisa mengatakan jika pihaknya kalah, maka tak akan ada lagi yang meyembah Allah?" kata Karding, Sabtu (23/2/2019).

Menurutnya, Neno adalah contoh paling gamblang bagaimana agama dijadikan kedok untuk tujuan politik. Ia menafikan kenyataan bahwa Jokowi-Maruf didukung oleh begitu banyak kiai, santri pondok pesantren, umat Islam yang juga menjalankan salat, zakat, haji, dan berbagai kelompok lintas agama. "Apa Neno merasa cuma dia dan kelompoknya yang menjalankan ibadah?" imbuhnya.

Dia mengerti seorang umat beragama tidak bisa melepaskan ketentuan-ketentuan yang telah diatur Tuhan dalam menjalankan aktivitasnya, termasuk saat berpolitik. Tetapi menjadikan nama Tuhan untuk tujuan politik seraya menggiring opini seolah lawan politiknya tidak menyembah Tuhan jelas merupakan hal mengggelikan. "Apa Neno mengira bahwa surga dan Tuhan hanya untuk kelompok mereka?" tegasnya.

Baginya, Neno bukan fanatik agama. Sebab seorang yang fanatik itu berarti mengerti betul tentang nilai-nilai esensial yang diajarkan agama, seperti menghargai, menghormati, dan menjaga perasaan sesama manusia. Bukan mengklaim seolah kelompoknya yang paling benar dan yang lain salah.

"Bagi saya Neno sedang terjerat dalam fanatisme politik. Ucapannya bukan saja mendiskreditkan kelompok yang berlainan politik dengannya, tapi bahkan juga berani mendikte dan mengancam Tuhan," tandas Karding.

Berikut potongan Puisi Munajat 212 yang beredar luas di media sosial. Neno Warisman terdengar membacakan puisi Munajat 212 sembari terisak.

"Jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami

Karena jika Engkau tidak menangkan

Kami khawatir ya Allah

Kami khawatir ya Allah

Tak ada lagi yang menyembah-Mu"



Sumber: BeritaSatu.com