Puisi Neno, Boni Hargens: Cara Pikir yang Berbahaya

Puisi Neno, Boni Hargens: Cara Pikir yang Berbahaya
Pengamat politik Boni Hargens dalam diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 8 September 2018. ( Foto: BeritaSatu.com / Yustinus Paat )
Yustinus Paat / YUD Sabtu, 23 Februari 2019 | 15:34 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens menyayangkan puisi inisiator Gerakan #2019GantiPresiden, Neno Warisman yang disampaikan pada acara Munajat 212 di Monas pada Kamis (21/2/2019) malam. Menurut Boni, puisi Neno Warisman sangat berbahaya bagi keamanan masyarakat.

“Ya Mbak Neno kan supaya Tuhan harus memenangkan Prabowo misalnya, ini menurut saya sebuah aksi publik yang sangat berbahaya,” ujar Boni seusai acara diskusi LPI bertajuk “Pemilu 2019 Bebas Konflik, Pendekatan Keamnan dan Intelejen” di Plaza Sentral, Sudirman, Jakarta, Sabtu (23/2).

Pada acara Munajat 212, Neno Warisman membawa puisi yang menjadi sorotan publik karena beberapa bagian dari puisi tersebut seakan-akan mengancam Tuhan jika Jokowi-Ma’ruf Amin menang Pilpres 2019. Puisi ini pun menjadi sorotan publik dan menjadi viral.

"Jangan serahkan kami kepada mereka yang tak memiliki kasih sayang kepada kami dan anak cucu kami.‎ Jangan tinggalkan kami dan menangkan kami. Jika engkau tidak menangkan, kami khawatir Ya Allah, kami khawatir tak ada lagi yang menyembahmu," bunyi puisi yang dibacakan Neno Warisman.

Boni menilai puisi Neno tersebut menyatakan bahwa surga bisa dipolitisasi dan iman orang dikacaukan dengan narasi politik demi memenangkan pasangan Prabowo-Sandiaga. Boni mengaku aneh dengan cara berpikir Neno yang beranggapan Tuhan bisa dikalahkan.

“Jadi nanti kalau kalah ini, berarti Tuhan dikalahkan, loh Tuhan mana yang bisa dikalahkan. Tuhan tidak pernah bisa dikalahkan, jadi kalau calon presidennya kalah, lalu tidak ada yang menyembah Tuhannya dan Tuhan kalah ini, menurut kami sebuah radikalisasi berpikir yang sangat bahaya bagi keamanan masyarakat,” jelas Boni.

Lebih lanjut, Boni seharusnya Tuhan atau agama tidak perlu dibawa-bawa ke ranah politik. Kalaupun simbol-simbol agama ditarik ke ranah politik, seharusnya ditempatkan pada konteks yang benar dan sesuai dengan nilainya yang benar.

“Agama ini kan benar, ya kenapa dirusaki satu atau dua orang untuk kepentingan politik, ya harus bicara soal perbedaan itu wajar, ketentraman harus kira jaga, perdamaian itu harus kita jaga siapapun yang menang dan kalah,” ungkap Boni.

Menurut Boni, dalam demokrasi, menang dan kalah merupakan hal yang wajar dan harus diterima oleh siapapun. Jika ada yang keberatan dengan hasil proses demokrasi, sudah terdapat ruang-ruang untuk menyampaikan dan memproses hasil proses demokrasi tersebut. Bukan malah membawa agama dan Tuhan yang tidak ada urusannya sama sekali.

“Ada yang kalah dan menang, kita harus terima dan Tuhan tidak ada urusan juga untuk disalahkan ketika faktanya tidak sesuai dengan yang kita mau. Jadi, jelas, itu (puisi Neno) politisasi yang sangat berbahaya,” pungkas Boni. 



Sumber: BeritaSatu.com