Rizal Ramli: Infrastruktur Merugi karena Kurang Perencanaan

Rizal Ramli: Infrastruktur Merugi karena Kurang Perencanaan
Presiden Joko Widodo bersama sejumlah menteri saat berada di ruas tol Trans Jawa, Kamis (20/12). ( Foto: BeritaSatu TV )
Fana Suparman / FMB Senin, 25 Februari 2019 | 14:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli kerap mengkritik kebijakan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK), terutama terkait impor pangan, dan utang yang membengkak. Namun, secara jantan, Rizal juga mengakui terdapat kebijakan Jokowi yang memberikan manfaat. Salah satunya mengenai infrastruktur.

Diakui Rizal, terdapat infrastruktur yang dibangun pemerintah yang bermanfaat untuk masyarakat. Terutama dalam mengurangi ketimpangan antara masyarakat di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa.

"Presiden Widodo berhasil membangun banyak proyek infrastruktur. Ada yang bermanfaat untuk rakyat. Sebagian memiliki nilai strategis terutama untuk mengurangi ketimpangan Jawa dan luar Jawa," kata Rizal di Jakarta, Senin (25/2/2019).

Meski demikian, Rizal mengingatkan, terdapat sejumlah proyek infrastruktur yang justru merugi. Bahkan, terdapat proyek yang bakal disubsidi rakyat. Dicontohkan, proyek jalan tol Pantura yang kerugiannya mencapai Rp 380 miliar per tahun atau proyek monorel Palembang yang rugi Rp 9 miliar per bulan.

"Kasus-kasus kerugian itu adalah contoh 'rakyat untuk infrastruktur' bukan 'infrastruktur untuk rakyat'," ungkapnya.

Menurut Rizal, kerugian dari sejumlah proyek itu disebabkan tidak berjalannya fungsi perencanaan dalam membangun infrastruktur. Dikatakan, pembangunan dilakukan hanya karena perintah presiden atau 'dawuh Pandito Ratu'.

"Anak buahnya sudah tahu, bos senang kalau diangkat-angkat. Istilahnya 'dawuh Pandito Ratu'. Kalau bangun ini, studi belum selesai dibangun dan sebagainya. Jadi kita mesti fair. Ada yang bagus buat rakyat, ada yang juga bagus untuk mengurangi ketimpangan, tetapi ada juga yang bakal jadi tanggungan rakyat Indonesia," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan