Bawaslu Didesak Ungkap Dugaan Pelanggaran Munajat 212

Bawaslu Didesak Ungkap Dugaan Pelanggaran Munajat 212
Jemaah Munajat 212 melaksanakan salat Magrib di Monas, Jakarta, Kamis (21/2/2019). ( Foto: Antara )
Feriawan Hidayat / FER Rabu, 13 Maret 2019 | 19:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Forum Ukhuwah Pengurus dan Imam Masjid (Furuia) dan Insan Hafidz Alumni Kampus Al-Quran PTIQ meminta Bawaslu DKI Jakarta tegas dan transparan atas indikasi pelanggaran yang terjadi pada kegiatan Munajat 212. Keduanya memberikan dukungan dan meminta Bawaslu jangan takut, meski Neno Warisman sebagai terperiksa berani mengancam Tuhan.

"Kami Furuia dan Insan Hafidz Alumni PTIQ meminta Bawaslu tegas dan adil dalam menegakkan peraturan-peraturan," kata Ketua Furuia, Ahmad Hariri, dalam keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, Rabu (13/3/2019).

Munajat 212 yang diselenggarakan di Monas 21 Februari 2019 silam, kata Ahmad Hariri, dinilai terindikasi jelas menjadi ajang kampanye politik terselubung salah satu pasangan calon presiden-calon wakil presiden (capres-cawapres).

"Padahal, acara munajat sebagai kegiatan keagamaan seharusnya tidak terkotori oleh kepentingan politik,” kata Ahmad Hariri.

Ahmad Hariri menambahkan, Furuia bersama Insan Hafidz Alumni Kampus Al-Quran PTIQ menilai, indikasi kampanye politik dalam acara ibadah tersebut tampak dari ketidakberimbangan undangan dan pengisi acara yang lebih banyak hadir dari kelompok pasangan capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Tidak hanya itu, perbuatan nista yang membungkus agama untuk kepentingan politik ini juga terlihat dalam penggunaan simbol-simbol serta konten kampanye yang disampaikan oleh para pengisi acara seperti Neno Warisman, Fadli Zon, Zulkifli Hasan, dan lain-lain," tegas Ahmad Hariri.



Sumber: BeritaSatu.com