Ryamizard Ryacudu Ajak Ulama dan Santri Jadi Garda Terdepan Jaga NKRI

Ryamizard Ryacudu Ajak Ulama dan Santri Jadi Garda Terdepan Jaga NKRI
Ryamizard Ryacudu ( Foto: ANTARA. / Hendra Nurdiyansyah )
Yeremia Sukoyo / AMA Jumat, 15 Maret 2019 | 13:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Semua elemen bangsa dan negara harus turut serta dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk kalangan ulama dan santri. Mereka sangat diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa.

"Sebagai anak bangsa, apakah kalian rela jika ada sekelompok orang yang tidak mengerti yang ingin menghancurkan kedamaian dan ketentraman yang kita miliki? Mereka juga ingin mengubah Pancasila dan menjadikan Indonesia menjadi bangsa tanpa keragaman atau negeri untuk satu golongan saja," kata Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu saat memberi ceramah tentang Bela Negara kepada ratusan santri dan santriwati di Aula Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Jumat (15/3/2019) sebagaimana disampaikan dalam rilis yang diteria Beritasatu.com.

Diingatkan Menhan, sebagai umat Islam yang Rahmatan Lil Alamin, semua harus bangga menjadi Bangsa Indonesia. Semua patut dilakukan karena bangsa Indonesia adalah bangsa dan negara yang sangat besar. Karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi para umat Islam untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara.

"Para ulama dan santri semua yang hadir disini lahir dari keturunan para pejuang dan patriot-patriot bangsa Indonesia. Saudara semua juga adalah pewaris utama kemurnian nilai-nilai Pancasila," ucap Menhan Ryamizard Ryacudu .

Karena itu, semua harus menyadari bahwa marwah dan amanah yang mulia sebagai generasi penerus berkewajiban melanjutkan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945. Yakni, mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur terutama untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat berdasarkan Pancasila.

Di hadapan para santri dan ulama Ponpes Tebuireng, Menhan juga menjelaskan tentang ancaman-ancaman yang dapat mengganggu keutuhan bangsa Indonesia, di antaranya adalah ancaman nyata dan acaman belum nyata (berbentuk fisik). Perlu diwapadai ancaman non-fisik yaitu ancaman terhadap "mindset" bangsa Indonesia yang berupaya untuk mengubah Ideologi negara Pancasila atau yang Populer dengan istilah perang modern atau proxy war.

"Ancaman ini berbentuk kekuatan soft power, yang berupaya untuk merusak jati diri bangsa Indonesia melalui pengaruh kehidupan ideologi asing yang beraliran Materialisme," kata Ryamizard Ryacudu lagi.

Saat ini, salah satu ancaman yang sangat nyata dan merupakan salah satu bentuk penistaan terhadap agama, negara, dan bangsa Indonesia yang sangat berpengaruh terhadap keutuhan dan kesatuan bangsa adalah terorisme dan radikalisme. Ancaman itu tidak hanya menimbulkan kerugian material dan nyawa serta menciptakan rasa takut di masyarakat, tetapi juga mengoyak keutuhan berbangsa dan bernegara.

"Mereka ini bukan Islam karena ajaran Islam adalah ajaran yang damai dan Rahmatan Lil-Alamin. Sangat tidak masuk akal seorang ibu dapat mengajak anak-anaknya untuk melakukan aksi bunuh diri," ucap mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat tersebut.

Dalam kunjungan kerjanya itu, Menhan Ryamizard bersama rombongan menyempatkan diri berziarah ke makam Presiden Ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang berada di dalam kompleks Pondok Pesantren Tebuireng.



Sumber: Suara Pembaruan