Wiranto: Masih Ada Ancaman yang Ganggu Pemilu

Wiranto: Masih Ada Ancaman yang Ganggu Pemilu
Menkopolhukam Wiranto meminta Prabowo secara jelas menunjuk elite politik yang dimaksud.
Robertus Wardi / AMA Rabu, 20 Maret 2019 | 11:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Koordinator (Menko) bidang Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan (Polhukam) Wiranto mengemukakan, masih ada ancaman yang ingin menganggu pemilu 2019. Ancaman itu berupa isu yang menyebutkan akan ada kerusuhan sebelum dan sesudah Pemilu.

"Saya minta kepada aparat kemanan di daerah, setelah kita mengetahui dan mengenali, tidak bisa didiamkan. Tindak tegas siapa pun yang mengganggu. Kita punya Undang-Undang sebagai senjata kita," kata Wiranto saat memimpin rapat koordinasi kesiapan keamanan pengamanan tahapan kampanye terbuka di Kementerian Polhukam, Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Turut hadir Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Waka BIN Teddy Lhaksmana, Ketua KPU Arief Budiman, Ketua Bawaslu Abhan, dan beberapa lembaga dan kementerian yang lain. Rapat kali ini juga turut serta mengundang jajaran keamanan dari seluruh daerah, melalui konferensi video jarak jauh.

Wiranto menjelaskan, Polri dan Bawaslu telah membuat indeks kerawanan Pemilu. Dari indeks tersebut, Wiranto meminta agar‎ mengetahui, mengenali, dan menetralisisasi apa apa yang masih bisa dirasakan sebagai ancaman atau hambatan terhadap pemilu.

"Saat ini cukup marak hoaks, ancaman baru yang dulu tidak ada di Pemilu-Pemilu sebelumnya. Ini semakin marak. Artinya, berita palsu, berita buatan, berita bohong yang dilansir ke publik dan mengganggu publik. Saya rasa, itu merupakan teror karena meneror mengganggu psikologi masyarakyat. Oleh karena itu, harus kita hadapi sebagai teror. Kita harus tindak dengan keras dengan tegas dengan berpatokan dengan aturan," jelas Wiranto.

Wiranto menegaskan, sekarang ini, ada isu seakan-akan pemilu tidak aman, pemilu akan menimbulkan kerusuhan, baik sebelum maupun sesudah. Tujuannya agar masyarakat ketakutan dan kabur ke luar negeri pada pemilu.

"Saya tegaskan jangan. Pemilu akan berjalan aman. Aprat keamanan akan memastikan pemilu akan berjalan aman. Tugas saudara di daerah itu menjelaskan bahwa pemilu aman, mengajak masyarakat agar tidak Golput, dan dijamin para pemilih ini bisa ke TPS dengan aman tanpa ada gangguan fisik atau lainnya. Pemilu adalah pesta demokrasi bukan menciptkan konflik," tegas Wiranto.

Pe­milu, kata Wiranto, harus disikapi sebagai satu ajang untuk memilih pemimp­in. Pemilu merupakan suatu bagian dari proses demokrasi yang harus dilak­sanakan. Pemilu sebenarnya bukan siapa melawan siapa, tet­api, kita memilih pemimpin.

"Jadi para ca­lon pemimpin, kontes­tan, bukan berhadapa­n. Tapi menghadap ra­kyat, untuk menyampa­ikan visi misinya, untuk menyampaikan ko­mpetensinya sebagai pemimpin. Jadi keliru kalau kita menerjemahkan pemilu itu berhadapan satu sama lain. Harus kita hindari," tutup Wiranto.



Sumber: Suara Pembaruan