Gerakan KawalPemilu 2019 Diluncurkan

Gerakan KawalPemilu 2019 Diluncurkan
Ilham Saputra dan Hadar Nafis Gumay. ( Foto: Antara )
Yustinus Paat / AB Kamis, 21 Maret 2019 | 00:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - KawalPemilu dan Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit) mengumumkan dan meluncurkan gerakan Kawal Pemilu Jaga Suara (KPJS) 2019  untuk menjaga suara rakyat dalam Pemilu 2019. Gerakan KPJS menggunakan teknologi informasi yang memungkinkan publik mengecek kebenaran jumlah suara yang didapat di level pilpres dan pemilu DPR, serta mengumpulkan tambahan foto hasil pemilihan DPD, DPRD I, dan DPRD ll.

Salah satu pendiri Netgrit, Hadar Nafis Gumay mengatakan KPJS menggabungkan tech skills KawalPemilu.org dan technical expertise Netgrit untuk menjaga suara rakyat dalam skala besar. Gerakan ini, kata Hadar, telah mendapat dukungan dari JADI, JPPR, Perludem, dan KIPP.

“Pada Pemilu 2019 terdapat 809.500 TPS yang suaranya perlu dijaga dan kali ini kami mengupayakan untuk mengumpulkan data primer dalam bentuk foto C1 plano dari masing-masing TPS. Formulir C1 plano adalah data pemilu paling dasar, dan pengumpulan fotonya adalah cara terbaik untuk menjaga suara rakyat di Pemilu 2019,” ujar Hadar Gumay ketika mengumumkan gerakan KPJS 2019 di Media Center KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Hadar Gumay menjelaskan bahwa tujuan KPJS adalah menjaga kemurniaan suara pemilih hingga penetapan hasil Pemilu 2019.

"Jangan sampai suara rakyat yang sudah diberikan di TPS, dalam perjalanannya berubah untuk memenangkan peserta pemilu tertentu. Gerakan ini juga kami lakukan untuk meningkatkan kepercayaan publik khususnya terhadap hasil perolehan suara, mewujudkan partisipasi langsung masyarakat sipil dalam proses penghitungan suara dan rekap perolehan suara serta pencarian alternatif proses rekap hasil perolehan suara yang akurat, cepat, efisien dan tepercaya untuk perbaikan ke depan,” kata Hadar Gumay.

Hadar Gumay mengakui bahwa gerakan tersebut merupakan pekerjaan besar yang memerlukan partisipasi jutaan masyarakat Indonesia untuk mengambil foto formulir C1 plano dengan jelas dan upload fotonya di situs upload.kawalgemilu.org. Relawan yang terlibat dalam gerakan ini tidak boleh terafiliasi dengan peserta pemilu mana pun. Relawan juga terlibat secara sukarela dan berpihak pada kebenaran data empiris "Relawan menggunakan ponsel, komputer dan koneksi internet pribadi serta tidak perlu menjadi praktisi teknologi informasi untuk bisa berkontribusi,” kata Hadar Gumay. 

Gerakan tersebut, lanjut Hadar Gumay, tergolong sederhana dengan tiga kata kunci, yakni pantau, foto, dan upload. Setelah selesai penghitungan suara, relawan bisa menggunakan ponsel untuk mengambil foto formulir C1 plano pilpres (2 halaman) dan C1 plano pileg DPR (18 halaman).

“Pastikan fotonya jelas dan datanya tidak tertutup. Kemudian, upload dengan memasukkan ke upload.kawalpemilu.org dan login dengan Facebook untuk upload fotonya satu per satu. Nanti, pergerakan angkanya akan bisa dilihat di kawalpemilu.org,” tutur Hadar Gumay.

Inisiator KawalPemilu.org Ainun Najib menyatakan pihaknya mengedepankan transparansi dan karenanya metodologi KPJS 2019 dibuka ke publik.

“Kami akan memvalidasi foto-foto yang masuk dan meng-input data dari foto-foto yang di-upload oleh para relawan di seluruh Indonesia. Lalu datanya bisa diperiksa secara live di situs kami,” kata Ainun Najib.

Cek Ulang
KPJS 2019 juga mengundang publik untuk mengecek ulang data di TPS-nya sebagaimana terlihat di situs kawalpemilu.org dan melaporkan data yang tidak akurat. Kesalahan input yang bisa diveriflkasi dan ada buktinya akan diperbaiki.

“Pemilu 2019 di Indonesia ini adalah salah satu pesta demokrasi terbesar di dunia. Karenanya kami mengajak warga dan juga segenap komunitas start-up dan media di Indonesia bergotong royong dengan kami untuk menyukseskan dan menjaga perhelatan akbar ini," kata Ainun Najib.

Baca Juga:

Jaga Suara Pemilu 2019 Lewat Gerakan Kawal Pemilu

KawalPemilu Libatkan Warganet "Jaga Suara 2019"



Sumber: BeritaSatu.com