Jokowi Gunakan Istilah “Dilan” untuk Gaet Undecided Voters Milenial

Jokowi Gunakan Istilah “Dilan” untuk Gaet Undecided Voters Milenial
Pemerintahan Dilan Jokowi ( Foto: Istimewa )
Carlos KY Paath / FMB Minggu, 31 Maret 2019 | 15:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Calon presiden (capres) 01 Joko Widodo (Jokowi) berupaya mendekati pemilih yang belum menentukan pilihan, khususnya generasi muda. Karenanya, Jokowi menggunakan kata ‘dilan’ atau singkatan dari ‘digital melayani’ dalam debat keempat Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019, Sabtu (30/3/2019).

“Penggunaan diksi ‘dilan’ oleh Jokowi pada debat merupakan pendekatan komunikasi politik untuk menggugah hati undecided voters (pemilih yang belum bersikap) dari kalangan milenial,” kata pengamat komunikasi politik dari Universitas Bunda Mulia (UBM) Jakarta, Silvanus Alvin saat dihubungi Beritasatu.com, Minggu (31/3/2019).

Alvin mengungkap, Jokowi juga ingin menampilkan kepada publik sebagai pemimpin yang memahami milenial. “Ini bentuk konfirmasi Jokowi terhadap para pendukungnya dan publik bahwa memang ia adalah kandidat yang mengerti milenial atau pemimpin zaman now,” ucap lulusan program master dari Universitas Leicester Inggris tersebut.

Selama dua tahun terakhir, menurut Alvin, anak-anak muda Indonesia dimabuk cinta oleh film Dilan. Terdapat dua film yang tayang di layar lebar yaitu Dilan 1990 dan Dilan 1991. Pada film pertama, lanjutan Alvin, ada sekitar 6 juta penonton. Sementara lanjutannya hampir 5 juta penonton. Mayoritas penontonnya memang generasi muda.

“Jumlah yang cukup masif. Artinya hampir semua anak muda tahu tentang Dilan. Sudah dua kali pula Jokowi seperti ‘menunggangi’ popularitas Dilan. Jokowi pernah mencontoh gaya berpakain Dilan dengan jaket jins-nya, dan naik motor. Sekarang Jokowi memanfaatkan diksi Dilan untuk kepentingan politik saat debat berhadapan dengan Prabowo Subianto,”

Alvin menambahkan, Jokowi melakukan konstruksi realitas. Di sisa waktu menuju pencoblosan 17 April 2019, masih kata Alvin, Jokowi berusaha menancapkan ide-ide populis yang mudah diingat masyarakat luas. “Saya melihat Jokowi ingin ketika ada topik tentang Dilan, maka akan muncul pula isu Jokowi,” imbuh Alvin.

Sedangkan narasai politik Prabowo, menurut Alvin, tampak abstrak dan filosofis. Narasi Dilan ala Jokowi, ujar Alvin, tentu lebih mudah direkam dalam memori masyarakat. Dari survei Litbang Kompas, menunjukkan bahwa masyarakat pendukung Jokowi berasal dari kalangan menengah ke bawah. Sebaliknya, Prabowo lebih banyak mendapat suara dari masyarakat menengah ke atas.

“Masyarakat yang pendidikannya menengah ke bawah lebih mudah mencerna kalimat-kalimat yang tidak elitis maupun filosofis,” pungkas Alvin. Sebelumnya, saat debat Jokowi mengatakan, dirinya berkomitmen menghadirkan pelayanan optimal bagi masyarakat jika dipercaya kembali menjabat presiden.

“Di bidang pemerintahan ke depan, diperlukan pemerintahan dilan, digital melayani. Oleh sebab itu diperlukan reformasi dalam pelayanan publik lewat elektronik. Diperlukan penajaman dan penyederhanaan kelembagaan. Diperlukan peningkatan kualitas SDM (sumber daya manusia) aparatur kita dan reformasi tata kelola,” kata Jokowi.



Sumber: Suara Pembaruan